 | About Me | Apr 23, 2008 |
  | Photos | Oct 28, 2008 |
Inkarnasi Antonio Gramsci, Nietzsche dan Karl Marx 1 Photo, 3 comments
Papua Merdeka 5 Photos, 4 comments
Tak Bisa Dibungkam Kodim, Tak Bisa Dibungkam Popor Senapan 1 Photo
Hoa Kiau di Indonesia 9 Photos, 6 comments
|
 |  | Blog | Jul 19, 2009 |
Kesadaran ini adalah kutukan.
  | Links | |
  |  |  | Music | Apr 23, 2008 |
Do Not Resuscitate formasi baru :) Band asal Sydney. Baru baru ini mereka main di acara Let's talk about text! A lot faster! A lot shorter.. Trashcore attack!
  | Guestbook | |
 | it is :) it's been a while :) |
 | hei hei bisa add ym gw? self_rhyme. biar bisa ngobrol2 teman! |
 | alooooooooooooow. Kunjungi blog gw yaaaa.... |
 | woahya?? hehe mau tmenan gk? |
 | heh STRAIGHT JACKET NATION ARE COMING TO JAKARTA |
 | Waduh, ini kok bertengkar di blog nya orang. Malu atuh. |
 | semoga allah nyadarin elu |
 | NIRU NABINYA...! http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/23/1/176318/kiai-cabul-dilaporkan-ke-mabes-polri/kiai-cabul-dilaporkan-ke-mabes-polriKIAI CABUL DILAPORKAN KE MABES POLRI Selasa, 23 Desember 2008 - 14:56 wib Yudis Thea Marga Tuasamu - Okezone JAKARTA - Kiai cabul berinisial (akn) asal Pati, Jawa Tengah, yang dikabarkan telah menyodomi dan menyiksa belasan pelajar serta staf pengajar, sore ini dilaporkan ke Mabes Polri. Laporan didaftarkan oleh perwakilan korban yang terdiri dari lima siswa dengan ditemani kuasa hukum dari LBH Advokasi Nasional. Mereka tiba di Mabes Polri sekira pukul 14.35 WIB. "Saya melaporkan (akn) atas kesaksian dari para korban. Saat ini saya hanya membawa lima anak. Sisanya akan menyusul, sembari menunggu hasil pengumpulan barang bukti lainnya," ujar Direktur LBH Advokasi Nasional Maskuri di Mabes Polri, Jakart, Selasa (23/12/2008). Untuk sementara, jumlah korban yang sudah didata berjumlah 21 siswa dan delapan guru. Berdasarkan pengakuan para korban, perlakuan tidak manusiawi itu sudah diterima sejak 2004. "Para guru yang menjadi korban adalah mereka yang dikeluarkan karena berani membela para siswa atau berani melaporkan perbuatan (akn)," ujarnya. Adapun barang bukti yang sudah dibawa di antaranya adalah foto-foto saat peristiwa kekerasan terjadi serta sebuah handycam yang pernah dibuat merekam aksi kekerasan terhadap beberapa orang siswa. "Tapi gambarnya sudah dihapus, kami harap polisi memiliki software untuk mencari gambar itu," ungkapnya. Selain menyodomi para siswanya, pelaku juga menyuruh siswa menyodomi rekannya atau ditelanjangi di depan teman-temannya. "Kejadiannya di dalam masjid," ujarnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, Maskuri berharap agar para orangtua siswa atau korban lain segera melaporkan kepada pihak berwajib kejadian yang pernah mereka alami. "Fenomena ini seperti gunung es," tukasnya. (ful) |
 | Rasulullah SAW Mengusir Yahudi Dec 24, '08 10:46 PM for everyone Rasulullah SAW Mengusir Yahudi Jun 18, '07 7:54 PM for everyone Sebelum Rasulullah saw. berhijrah ke Madinah, di kota itu telah hidup selama berabad-abad sejumlah komunitas Yahudi. Yang paling terkenal di antaranya adalah Yahudi Bani Qainuqa, Bani Quraizhah, dan Bani Nadhir. Pada awal kedatangan Nabi saw. ke Madinah, mereka berharap dapat mempengaruhi beliau sehingga akan dianggap bahwa kenabiannya adalah bagi Bani Israel. Namun, upaya mereka menemui kegagalan, apalagi sikap tegas Nabi saw. terhadap orang-orang kafir Quraisy menjadi momok yang menakutkan bagi komunitas Yahudi Madinah. Rasulullah saw. bahkan tidak henti-hentinya mengajak mereka masuk Islam. Mereka malah menjawab, "Wahai Muhammad, apakah engkau mengira kami ini seperti kaummu? Janganlah engkau membanggakan kemenangan atas suatu kaum yang tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang engkau hadapi dalam peperangan, niscaya engkau akan mengetahui siapa kami ini sebenarnya." Pengkhianatan pertama kaum Yahudi terhadap Watsîqah (Piagam) Madinah adalah ketika seorang wanita Arab datang membawa perhiasannya ke pasar Yahudi Bani Qainuqa. Ia mendatangi tukang sepuh (Yahudi) untuk menyepuh perhiasannya. Sambil menunggu tukang sepuh menyelesaikan pekerjaannya, ia pun duduk. Tiba-tiba datang sekelompok pemuda Yahudi ke dekatnya seraya memintanya untuk membuka penutup wajahnya, namun wanita itu menolak. Tanpa diketahuinya, si tukang sepuh malah menyangkutkan ujung pakaian yang menutupi tubuh wanita itu ke bagian punggungnya. Akibatnya, tatkala wanita itu berdiri, tersingkaplah aurat bagian belakangnya. Orang-orang Yahudi itu pun tertawa terbahak-bahak. Sebaliknya, si wanita itu menjerit meminta tolong. Mendengar jeritan tersebut, salah seorang Muslim yang ada di pasar tersebut segera menyerang tukang sepuh itu dan membunuhnya. Namun, sekelompok Yahudi tersebut berbalik membunuh si Muslim tersebut. Kejadian ini memicu peperangan antara Yahudi Bani Qainuqa dan kaum Muslim, sebagaimana yang dituturkan Ibnu Hisyam.[1] Peristiwa tersebut terjadi pada pertengahan bulan Syawal tahun kedua Hijriah.[2] Rasulullah saw. dan pasukan Muslim berhasil mengepung mereka dan memaksa mereka untuk menyerah. Atas desakan Abdullah bin Ubay (tokoh kaum munafik yang pada masa lalu merupakan sekutu dekat kaum Yahudi), Rasulullah saw. membebaskan mereka, seraya mengusir kaum Yahudi Bani Qainuqa dari kota Madinah—mereka tidak diperbolehkan hidup berdekatan dengan kota Madinah. Yahudi Bani Qainuqa pergi meninggalkan Madinah sebagai orang-orang yang terusir dan terhina (karena mengkhianati Piagam Madinah). Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah Adzra'at (termasuk kawasan Syam). Adapun pengusiran Yahudi Bani Nadhir kejadiannya adalah sebagai berikut: Rasulullah saw. mendatangi komunitas Yahudi Bani Nadhir untuk meminta bantuan mereka membayar diyat (harta tebusan) yang akan diserahkan kepada keluarga dua orang Bani Kilab yang dibunuh secara tidak sengaja oleh Amir bin Umayyah ad-Dhamri. Kedua orang yang terbunuh itu sebelumnya telah memperoleh jaminan dari Rasulullah saw. Sesuai dengan Piagam Madinah, beliau bisa mendapatkan bantuan dari kabilah-kabilah yang terikat dengan piagam tersebut, termasuk dalam pembayaran diyat. Tatkala Rasulullah saw. mendatangi Yahudi Bani Nadhir, mereka malah merencanakan pembunuhan terhadap beliau. Salah seorang Yahudi Bani Nadhir yang bernama Amir bin Jihasy an-Nadhari berkata kepada kawan-kawannya, "Aku akan naik ke bagian atas rumah, kemudian menjatuhkan batu besar kepadanya." Sementara itu, Rasulullah saw. tengah duduk bersandar pada dinding rumah. Pada saat rencana itu akan dilaksanakan, Rasulullah saw. diberitahu (melalui wahyu) sehingga beliau segera bangun dari duduknya dan kembali ke Madinah. Para sahabat beliau yang menyertainya pun bertanya, lalu dijawab oleh beliau, "Orang-orang Yahudi itu merencanakan pengkhianatan, lalu Allah mengabarkan hal itu kepadaku. Aku pun segera bergegas meninggalkannya." Setelah itu, beliau mengirimkan utusan kepada komunitas Yahudi Bani Nadhir untuk menyampaikan pesan, "Keluarlah kalian dari negeriku, karena kalian telah merencanakan pengkhianatan. Aku memberi tenggat waktu 10 hari. Jika setelah tenggat waktu itu masih ada yang terlihat maka akan dipenggal lehernya!" Karena adanya provokasi dari Abdullah bin Ubay, Yahudi Bani Nadhir enggan keluar dari Madinah. Hal itu memaksa Rasulullah saw. untuk mengepung pemukiman Yahudi Bani Nadhir. Dalam peristiwa pengepungan tersebut beliau memerintahkan kaum Muslim untuk membakar kebun-kebun kurma milik Bani Nadhir agar tidak dijadikan tempat bersembunyi, atau tidak menghalangi proses pengepungan terhadap mereka. Pengepungan itu berakhir dengan diterimanya perintah Rasulullah saw. terhadap mereka, yaitu meninggalkan Madinah dengan hanya membawa barang-barang (harta) yang dapat diangkut oleh unta dan tidak dibolehkan membawa senjata. Sebagian besar mereka akhirnya menetap di daerah yang terletak antara Khaibar dan Syam. Harta yang ditinggalkan oleh Bani Nadhir (fa’i) kemudian dibagikan oleh Rasulullah saw. kepada kaum Muhajirin saja, kecuali dua orang Anshar (yaitu Sahal bin Hanif dan Abu Dujanah). Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah Swt. menurunkan wahyunya mengenai hukum-hukum pembagian harta fa’I (Lihat: QS al-Hasyr [59]: 5-6) Setelah peristiwa itu, maka komunitas Yahudi yang masih tinggal di sekitar kota Madinah adalah Yahudi Bani Quraizhah. Itu pun pada akhirnya bernasib sama dengan dua komunitas Yahudi sebelumnya: terhina dan binasa di tangan kaum Muslim akibat pengkhianatan yang kerap mereka lakukan. Itulah yang menjadi ciri khas komunitas Yahudi hingga saat ini. (Lihat: QS al-Maidah [5]: 13; QS al-Baqarah [2]: 100; QS al-Baqarah [2]: 61). [AF]. [1] Sîrah Ibn Hisyâm, II/47. [2] Târîkh at-Thabari. II/480. Publikasi: Majalah Al-Waie No. 52 (12/1/2004) http://khilafahislam.multiply.com/journal/item/25 |
 | bombsai bombsai wrote today at 10:00 PM prot kalau agama lu benar dan hebat lu tulis dongk di mp lu kok dari dulu mpnya kaga berani lu isi agama kristen.....HI,HI,HI, .....PENGECUT LU ... ....LU MAH KRISTEN NGAKU AJA.!!! ...LAGU LAMA KRISTEN NGAKU ATHEIS LAH ,KAGA ADA AGAMALAH, AGNOSTICLAH,MURTADINLAH.....PANTESS ADA MAHAGURUNYA SI PENDUSTA YAITU SI PAULUS......... oran2 anti islam emang kebukti dari dulu pengecut untuk nyebutin apa agamanya aja kaga berani.........takut gue serang tuh agamanya.....karena ajaran agamanya emang pada kaga masuk akal dan merendahkan akal dan logika dan kaga ada apa2nya.... bombsai bombsai wrote today at 9:44 PM hallo ceprot alias pastor homo vanriza.....masih hidup lu ya......lu manusia yg dari dulu tololnya luar biasa...kaga sadar 2 nyembah yesus...lu sama aja nyembah berhala berujud manusia....agama kayak gini lu bela mati2an...benar2 kaga punya otak..... |
 | http://vanriza.multiply.com/journal/item/117/Ajakan_Diskusi_dan_Argumentasi_Apologetika_Kepada_serbuiff.multiply.comvanriza ...link diatas ini kok lu hapus ? malu ya lu udah keok ..... lihat nih keguoblokannya : VANRIZA SI LUAR BIASA GUOBLOK Jun 18, '08 1:29 AM for everyone VANRIZA : Yohanes 8:58 KATA YESUS kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." SERBUIFF: ....WADUH INI ORANG TOLOLNYA MINTA AMPUN…… FAKTA SEJARAH DENGAN JELAS BICARA YESUS ADA SETELAH ABRAHAM . LIHAT : Yesus dari Nazaret (kurang lebih antara 6 SM–4 SM - 29–33) adalah seorang tukang kayu, pengkhotbah/pengajar, penyembuh, guru/rabbi, pembuat mujizat, dan tokoh Yahudi yang paling terkenal; di dalam kekristenan Yesus Kristus juga merupakan Anak Allah, Tuhan, Mesias, dan Juru Selamat umat manusia; dalam Islam, Isa Almasih adalah seorang nabi penting (Nabi Isa). SUMBER : http://id.wikipedia.org/wiki/YesusAbraham Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Langsung ke: navigasi, cari Abraham (Ibrani: אַבְרָהָם, standar Avraham Ashkenazi Avrohom atau Avruhom Tiberias ʾAḇrāhām ; Arab: ابراهيم, Ibrāhīm ; Ge'ez: አብርሃም, ʾAbrəham) adalah tokoh penting dalam Alkitab dan Al-Quran. Agama Yahudi dan Kristen mengakuinya sebagai patriarkh, sementara dalam tradisi Islam ia dikenal sebagai Nabi Ibrahim. Dalam tradisi agama Abrahamik, Abraham adalah bapak rohani dari banyak orang. Menurut Alkitab, Abraham dipanggil Allah dari Mesopotamia ke negeri Kanaan, sekitar tahun 2000 SM.[1] Di sana ia mengadakan perjanjian: Abraham diminta mengakui bahwa Yahweh adalah Tuhan dan otoritas tertinggi satu-satunya dan universal, dan untuk itu Abraham akan diberkati dengan keturunan yang tak terhitung banyaknya. Kehidupannya yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian (pasal 11–25) dapat mencerminkan berbagai tradisi. Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Abraham ....MAKANYA GUNAKAN OTAK.. INJIL ENTE ITU UDAH KAGA BENAR DAN KAGA SESUAI DENGAN FAKTA SEJARAH…DAN YESUS KAGA AKAN PERNAH BERKATA SETOLOL ITU OM …, MOSOK NGATAKAN YESUS ADA SEBELUM ABRAHAM……KITAB SUCI APAAN ITU ?.............KITAB SEPERTI INI MASIH AJA DIIMANI…KITAB SESAT DAN MENYESATKAN OM INGIN TAHU LEBIH DALAM KEGUOBLOKAN YANG LUAAR BIASA DARI ANAK INI LIHAT : http://vanriza.multiply.com/journal/item/117/Ajakan_Diskusi_dan_Argumentasi_Apologetika_Kepada_serbuiff.multiply.com |
 | Perang Bani Mustaliq atau Al-Muraisi' PDF Print E-mail Written by admin Saturday, 10 May 2008 (Syaaban enam (6) Hijrah) Peperangan ini tidaklah besar dan berlarutan sangat dari segi pergerakan ketenteraan, cuma satu segnifikan sahaja kerana di dalam rintitan peristiwanya terbentuk satu kisah yang mengemparkan masyarakat Islam di masa itu, padanya terbongkar keburukan kaum munafiqin, darinya terbentuk "hukuman darah" yang menampilkan masyarakat Islam sebagai sebuah institusi yang mulia, suci dan bersih jiwa, di sini kami memaparkan kejadian peperangan, kemudian kami susuli dengan peristiwa yang bersejarah itu. Peperangan ini terjadi di bulan Sya'ban tahun keenam (6) Hijrah. Ini pendapat yang paling sahih. Sebab musababnya timbul dari satu berita yang diterima oleh Rasulullah (s.a.w) bahawa ketua qabilah Banu al-Mustalaq yang bernama al-Harith bin Abi Dhirar, telahpun mengerah tenaga kaumnya dan suku-suku bangsa Arab yang dibawah pengaruhnya untuk bergerak ke arah Madinah memerangi Rasulullah. Dengan itu Rasulullah pun mengutus Buraidah bin al-Hasib al-Aslami untuk memastikan kesahihan berita yang telah diterima itu. Buraidah pun terns menemui qabilah ini malah beliau telah berjumpa dengan al-Harith bin Abi Dhirar dan bercakap dengannya. Lepas itu beliau pulang dengan membawa kenyataan yang dibuat oleh al-Harith tadi. Setelah memastikan kesahihah berita maka Baginda mengerah para sahabatnya, malah Baginda keluar dengan segera, pergerakan Rasulullah adalah pada malam kedua di akhir bulan Sya'ban, turut bersama ialah sekumpulan kaum munafiqin yang sebelum ini tidak pernah keluar ke mana-mana peperangan, Baginda melantik Zaid bin Harith sebagai Khalifahnya di Madinah, tapi ada pendapat lain mengatakan Abu Zar dan satu pendapat lagi mengatakan Thamilah bin Abdullah al-Laithi. Al-Harith bin Dhirar telah menghantar pengintipnya, untuk mengutip berita mengenai tentera Islam, tapi kaum muslimin sempat menangkapnya dan terus dibunuh. Setelah al-Harith bin Abi Dhirar mengetahui tentang pergerakan Rasulullah dan kematian pengintipnya, beliau telah dihimpit ketakutan menyebabkan orang-orang Arab badwi yang bersama dengan beliau lari dari situ ke beberapa tempat lain. Sebaik sahaja Rasulullah sampai ke kawasan bernama al-Muraisi' yang merupakan perairan Banu al-Mustalaq di daerah Qadid, ianya terletak berhampiran dengan pantai. Terus Baginda membuat persiapan dan mengatur plan penyerangan, bendera Muhajirin bersama Abu Bakar al-Siddiq manakala bendera al-Ansar bersama Saad bin Ubbadah, di peringkat awal sekadar saling memanah, setelah beberapa jam berlalu dengan cara ini, akhirnya Rasulullah memerintah supaya dibuat satu serangan yang mantap serentak, lalu arahan terus disegerakan, di mana peperangan berakhir dengan kemenangan total kepada tentera Islam. Kaum musyrikin menerima kekalahan yang teruk di mana sebilangan dari mereka terbunuh dan sebahagian yang lain ditawan, Rasulullah menawan kaum wanita, anak-anak dan kambing ternakan mereka, dari tentera Islam hanya seorang sahaja yang terbunuh ianya dari al-Ansar itu pun kerana beliau disangka musuh. Inilah mengikut apa yang ditegaskan oleh ahli al-Sirah dan aI-Maghazi, namun Ibnu al-Qayim mengatakan: Itu adalah sangkaan (waham), kerana tidak berlaku sebarang pertempuran, tapi yang berlaku hanya penyerangan oleh pihak muslimin ke atas perairan banu al-Mustalaq di samping menawan harta-harta dan perempuan-perempuan mereka. Sebagaimana tersebut di dalam kitab sahih: Rasulullah menyerang Banu al-Mustalaq. Kemudian Ibnu al-Qadim menyebut hadith berkenaan. Di antara perempuan-perempuan yang ditawan ialah Juwairiyah binti al-Harith ketua qabilah, yang menjadi saham Thabithin Qais, di mana beliau menawar peluang memerdekakan diri secara mukatabah (membebaskan diri secara bayar beransur-beransur). Justeru itu Rasulullah bertanggungjawab memerdekakan beliau, kemudian Baginda mengahwininya, setelah itu tentera Islam memerdekakan pula keluarga Banu al-Mustalaq yang telah memeluk Islam, dengan kata mereka: " Mereka adalah mertua-mertua Rasulullah". Adapun peristiwa lain yang berlaku di dalam peperangan ini, di mana Abdullah bin Ubai dan kuncu-kuncunya yang merupakan petualang utama, sudah menjadi kewajipan kita memperkatakan sebahagian dari kerja-kerja mereka di dalam masyarakat Islam di Madman. PERANAN MUNAFIQIN SEBELUM PEPERANGAN BANU AL-MUSTALAQ Berulang kali telah kita kemukakan bahawa Abdullah bin Ubai rasa cemburu dan sesak dada dengan Islam dan kaum muslimin, terutamanya Rasulullah (s.a.w). Kerana al-Aws dan al-Khazraj sudah pun bersetuju menerima kepimpinan Rasulullah (s.a.w) sedang sebelum ini mereka sedang menyiapkan pakaian sutera untuk menabalkan beliau sebagai pemimpin mereka sekiranya Islam memasuki al-Madinah, kemudian mereka sisihkan beliau dari jawatan itu, maka sebab itulah beliau merasakan bahawa Rasulullah yang bertanggungjawab merampas kekuasaannya. Kemarahan dan perasaan hasad dengki beliau ini ditunjukkan di permulaan Hijrah Rasulullah ke Madinah sebelum beliau berpura-pura memeluk Islam. Pada suatu hari Rasulullah menunggang kaldai untuk menziarahi Saad bin Ubbadah, Rasulullah pun melalui di hadapan majlis Abdullah bin Ubai, bila beliau melihat Rasulullah beliau menjadi merah muka kerana benci dan dengki dengan Rasulullah, di masa itu kata Ibnu Ubai: Lain kali jangan lagi memasuki majlis kami ini. Dan setelah Rasulullah membaca ayat al-Quran di dalam majlis berkenaan maka kata Ibnu Ubai: "Duduk sahaja di rumah kamu, dan tak usahlah menyibukkan kami di majlis ini". Ini adalah sebelum beliau berpura-pura memeluk Islam, namun selepas beliau mengisytiharkan Islam secara berpura-pura masih tetap beliau memusuhi Allah, Rasul dan kaum mukminin, beliau tidak memikirkan selain dari menghancurkan masyarakat Islam dan melemahkan perpaduan Islam, beliau terus membantu seteru-seteru Allah, dalam peristiwa Banu Qainuqa' beliau sengaja masuk campur tangan seperti yang telah kita jelaskan, demikian jugalah usaha beliau yang jahat dan khianat di dalam peperangan Uhud, bertujuan memecah-belahkan saf kaum muslimin dan melakukan porak peranda, kekacauan dan huru-hara. Betapa busuknya helah si munafiq bedebah ini dan pandai pula beliau menipu orang-orang mukminin, di mana selepas memeluk Islam secara berpura-pura, pada setiap hari Jumaat semasa Rasulullah duduk untuk berkhutbah beliau akan bangun untuk membuat peringatan dengan berkata: "Ini dia Rasulullah yang masih berada di kalangan kamu, dengannya Allah memuliakan kamu dan mengagungkan kamu, untuk itu bantulah Baginda, sokonglah Baginda, dengarlah dan taatilah Baginda", kemudian beliau duduk. Maka barulah Rasulullah (s.a.w) berdiri untuk berkhutbah. Betapa buruknya niat si munafiq ini, yang masih sanggup lagi untuk meneruskan amalannya di hari Jumaat selepas peperangan Uhud, yang masih tidak menginsafi dengan tindakan jahat lagi terkutuk itu, beliau bangun di hari itu untuk berbuat seperti kebiasaannya, orang-orang Islam pun merentap hujung bajunya dengan kata mereka: "Duduklah wahai seteru Allah, kamu bukan orang yang layak berbuat demikian, cukuplah dengan apa yang telah kau lakukan di masa-masa yang lepas", dengan itu beliau pun terus berjalan keluar dari masjid melangkah-langkah belakang orang lain yang sedang duduk dengan kata-katanya yang kesat: Bolehjadi yang ku cakap ini tidak elok tapi maksud ku ialah untuk mengukuhkan keditdukannya, semasa di pintu masjid beliau bertemu dengan seorang Ansar yang berkata kepadanya: "Celakalah kau, Ayuh patah balik dan minta maaf dari Rasulullah (s.a.w) agar Baginda beristighfar untuk kau", jawab Ibnu Ubai: "Demi Allah aku tidak memeriukan dia meminta ampun untukku". Abdullah bin Ubai ini mempunyai hubuhgan dengan Banu al-Nadhir, beliau di antara perencana plot konspirasi terhadap kaum muslimin, malah beliau pernah menegastan kepada mereka: "Seandainya kamu di halau keluar nescaya karai akan turut serta, dan sekiranya kamu diperangi akan kami bantu kamu". Perkara yang sama beliau lakukan bersama tali barutnya di dalam peperangan al-Ahzab, di antaranya, menimbulkan keresahan, huru-hara, menimbulkan ketakutan dan kebingungan di kalangan masyarakat Islam seperti mana yang diceritakan Allah di dalam surah al-Ahzab: "Ketika orang-orang munafiq dan orang-orangyang di dalam hatinya berpenyakit berkata: Tidak adalah janji Allah dan RasulNya kepada kami, melainkan semata-mata penipuan sahaja. Mereka mengira bahawa sekutu, belum pergi. Jika sekutu datang kembali mereka bercita-cita supaya mereka berada di dalam dusun beserta badm-badwi, sambil menanyakan perkhabaran kamu dan kalau mereka berada bersama kamu, tidaklah mereka berperang melainkan sebentar sahaja. (al-Ahzab: 12-16) Memang seluruh seteru-seteru Islam yang terdiri dari kaum Yahudi munafiqin dan musyrikin memahami bahawa faktor kemenangan Islam bukan kerana keupayaan maddi (material) yang lebih, kecanggihan peralatan dan ramai bilangan tentera, bukan itu semua, tetapi kemenangan itu adalah kerana faktor nilai, akhlak dan contoh-contoh teladan yang tinggi yang dihayati oleh masyarakat Islam, malah sesiapa sahaja yang berintima' dengan agama ini maka itulah akhlaknya. Musuh Islam memang mengetahui bahawa imbuhan-imbuhan yang menerap masuk ke dalam jiwa setiap muslim ialah contoh teladan agung mereka, iaitu Rasulullah (s.a.w). Mereka sudah pun mengenali hakikat ini sepanjang peperangan yang mereka lalui, di mana untuk melawan dan membenteras agama ini bukanlah suatu perkara yang mudah, terutamanya melalui kekuatan senjata. Untuk itu mereka telah membuat tindakan melancarkan seran^an propaganda dan dakyah yang meluas terhadap agama dari sudut akhlak dan susilanya, apatah lagi peribadi Rasulnya yang memang menjadi sasaran serangan utama, oleh kerana golongan munafiq merupakan gunting dalam lipatan, dan mereka merupakan penduduk asal Madinah maka amat sesuai sekali untuk mempengaruhi perasaan kaum muslimin dan sentimen mereka. Ya, golongan munafiqin telah memikul tanggungjawab propaganda jahat ini,terutamanya ketua mereka Ibnu Ubai. Rancangan mereka ini terpamer dengan jelasnya selepas peperangan al-Ahzab, iaitu semasa perkahv/inan Rasullah (s.a.w) dengan Ununu al-Mukminin Zainab binti Jahsy, setelah diceraikan oleh Zaid bin Harithah, kerana tradisi bangsa Arab, anak angkat itu adalah dianggap setaraf dengan anak sendiri, pada kepercayaan mereka haram seseorang berkahwin dengan janda anak angkatnya. Jadi apabila Rasulullah (s.a.w) berkahwin dengan Zainab maka kaum munafiqin pun seolah-olah memperolehi satu peluang untuk menimbulkan darinya keburukan dan kehinaan terhadap Rasulullah (s.a.w). Pertama: Zainab bin Jahsy adalah isteri Rasu) sedang al-Quran tidak mengizinkan sesc.^ berkahwin lebih dari empat, bagaimana ini boleh sah pula kepada Baginda? Kedua Zainab adalah bekas isteri anak angkatnya, maka perkahwinannya dianggap sebesar-besar kesalahan mengikut tradisi bangsa Arab, mereka menyebar luas proganda jahat ini, dan berbagai citra dan kisah rekaan yang mereka rekakan, kononnya kata mereka: Di suatu hari Muhammad (s.a.w) ternampak Zainab secara tak sengaja, dari peristiwa itu Baginda mula terpesona dengan kecantikannya, hati Baginda sentiasa teringat-ingat kepadanya, oleh itu maka anak angkatnya Zaid pun menceraikannya untuk memberi laluan kepada Muhammad (s.a.w). Mereka mengheboh-hebohkan propaganda jahat ini, yang dapat dikesan di dalam sejarah dan pembicaraan di dalam kitab-kitab al-Tafsir dan al-Hadith hingga ke hari ini, diayah ini telah memberi kesan buruk di kalangan mereka yang lemah iman, hingggalah turunnya ayat-ayat al-Quran yang menjelaskannya. Padanya termuat penawar-penawar yang melegakan dada-dada yang bergelora dengan fitnah-fitnah itu, dapat diduga betapa tersebar fitnah-fitnah ini hingga Allah (s.w.t) memulakan surah al-Ahzab ini dengan peringatan keras darinya: "Hai nabi bertaqwalah kamu kepada Allah dan janganlah engkau ikut orang-orang kafir dan orang-orang munafiqin. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana ". (al-Ahzab: 1) Inilah satu pendedahan ringkas dan gambaran kecil mengenai angkara murka yang dilakukan oleh golongan munafiq dan taqiyah sebelum peperangan banu al-Mustalaq. Menghadapi angkara ini nabi terpaksa menanggungnya dengan kesabaran, ketenangan dan sikap berlembut, manakala keseluruhan orang Islam sentiasa berwaspada dan berjaga-jaga terhadap keburukan mereka kerana orang Islam telah mengenali dan faham akan perlakuan buruk mereka ini sekali lepas sekali, sebagaimana firman Allah (s.w.t): "Atau tidakkah kamu mengetahui, bahawa mereka dicuba tiap tahun sekali atau dua kali, kemudian mereka tidak bertaubat dan tidak pula mengambil peringatan" (At-Taubah: 126) PERANAN GOLONGAN MUNAFIQ DALAM PEPERANGAN BANU AL-MUSTALAQ Dalam peristiwa peperangan Banu al-Mustalaq golongan munafiq telah pun keluar bersama seperti mana yang digambarkan oleh Allah di dalam firmanNya: "Kalau sekiranya mereka keluar bersama kamu, tiadalah mereka menambah selain dari kebinasaan dan mereka bersegera di antara kamu membuat fitnah." (At-Taubah: 47) Mereka mengenalpasti orang-orang yang boleh. pengaruhi dengan fitnah-fitnah mereka, melaluinya mereka jugamenimbulkan kekacauan di dalam saf kaum muslimin dan propaganda jahat terhadap peribadi Rasulullah (s.a.w). Di sini kami sajikan peristiwanya secara terperinci: 1. Kenyataan kaum munafiqin "Demi jika kami kembali ke Madinah nescaya orang-orang yang mulia di antaranya akan mengusir orang-orang yang hina". Setelah selesai peperangan Banu al-Mustalaq, Rasulullah pun berhenti di al-Muraisi' di situ kaum muslimin pun singgah dan mengambil air di kawasan berkenaan, bersama-sama Saidina Umar seorang suruhan bernama Jahjah al-Ghaffari, orang suruhan ini berasak-asak di tempat air tadi dengan Sinan Ibnu Wabar al-Juhani, membawa kepada pergaduhan dan pukul memukul, oleh si al-Juhani, beliau melaung membangkitkan sentimen perkauman dengan katanya; "Wahai orang-orang Ansar". Dan si Jahjah pun melaung membangkitkan sentimen perkauman dengan katanya: "Wahai kalian Muhajirin". Rasulullah pun menyuara kepada sekalian hadirin: " Apakah kamu rela menyeru dengan seruan jahiliah ini sedang aku masih bersama di kalangan kamu ini? Tinggalkanlah semua seruan itu, ianya suatu yang lapuk dan busuk". Kejadian ini sampai ke pengetahuan Abdullah bin Ubai Bin Salul, yang pada ketika itu bersama sekumpulan orangnya termasuk Zaid bin Arqam budak muda, dan beliau berkata dengan marah: "Apakah ini boleh mereka lakukan, sudahlah mereka ketepikan kita setelah berasak-asak di negeri kita, demi Alfah kita dan mereka tak ubah seperti kata orang tua-tua dahulu: Seperti melepas anjing tersepit. Demi Allah apabila kita pulang ke Madinah nanti, golongan yang mulia akan menghalau keluar golongan hina". Dan beliau berkata kepada orang di sekelilingnya; "Inilah akibat tindakan kamu sendiri, yang telah membenarkan mereka memasuki negeri kamu, kemudian berkongsi harta pula dengan mereka, demi Allah sekiranya di hari ini kamu pegangkan kemakmuran kamu itu nescaya mereka ini akan berpindah ke tempat lain". Zaid bin Arqam yang berada di majlis mereka itu segera memberitahu kepada bapa saudaranya, kemudian bapa saudaranya pula segara memberitahu kepada Rasulullah, kebetulan Saidina Umar pun berada di samping Rasulullah, lantas Umar pun berkata: "Wahai Rasulullah suruh sahaja Ubbadah bin Bishr membunuh si bedebah itu", tapijawab Rasulullah: "Bagaimana Umar, nanti orang akan bercakap bahawa Muhammad membunuh sahabatnya sendiri, ini tidak mungkin, Ayuh maklumkan sekalian tentera mengenai pergerakan kita". Ketika itu bukanlah masa kebiasaan orang berjalan, namun demikian kesemua orang mula bergerak, di masa itu Usaiyid bin Hadhir mengucap salam kepada Rasulullah sambil berkata: "Wahai Rasulullah, tuan hamba berjalan di luar masa kebiasaan". Maka jawab Rasulullah: "Tidakkah sampai ke pengetahuan kau yang telah diperkatakan oleh kawan-kawan itu", tanya Usaiyid: "Apa yang beliau cakap ya Rasulullah"? Jawab Rasulullah: "Katanya: Beliau menelah sekiranya beliau pulang ke Madinah nanti pasti orang termulia akan menghalau yang hina". Jawab Usaiyid: "Engkau wahai Rasulullah yang akan menghalaunya keluar sekiranya Rasulullah mahu, demi Allah dialah yang hina dan dikau wahai Rasulullah yang mulia, kemudian katanya lagi: Biarlah dan berlembutlah dengannya wahai Rasulullah, demi Allah Dialah Tuhan yang telah membawa tuan hamba kepada kami semua, beliau itu nebelum ini sudah disediakan dengan persalinan sutera untuk ditabalkan sebagai ketua, beliau menyangka tuan hambalah yang telah merampas hak takhtanya itu". Rasulullah bergerak dengan semua orang sepenuh hari hingga lewat kepetangnya, dan dari malamnya hingga ke pagi hari, dan berhenti di hari itu ketika matahari terik membakar mereka semua, setelah itu barulah Rasulullah berhenti, dan barulah mereka terasa kerehatan bila memijak bumi, semua mereka keletihan dan terus tertidur. Rasulullah berbuat demikian supaya semua orang sibuk dan tak ada masa untuk bercakap-cakap. Bila Ibnu Ubai menyedari bahawa Zaid bin Arqam telah memberitahu percakapannya tadi, terus beliau datang menemui Rasulullah dan bersumpah dengan nama Allah yang beliau tidak bercakap sedemikian dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata seperti itu, malah katanya: "Wahai Rasulullah bolehjadi si anak itu telah menyangka yang bukan-bukan dari percakapanku dahulu dan boleh jadi beliau sendiri tidak dapat mengingatkan sangat percakapan orang tua-tua", Rasulullah pun mengiyakan apa yang disebut oleh Ibnu Ubai itu. Di hari itu kata Zaid: "Aku terasa sugul dan berdukacita kerana belum pernah ku rasa kesedihan seperti hari itu, aku duduk saja di dalam rumah hinggalah Allah menurunkan ayatnya yang bermaksud: Apabila orang-orang munafik datang kepadamu.mereka berkata: "Kami mengakui bahawa kamu benar-benar Rasulullah". Dan Allah mengetahui bahawa kamu benar-benar Rasul-Nya, . dan Allah juga mengetahui bahawa orang Munafik itu adalah orang-orang yang dusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalang manusia dari jalan Allah.Sesungguhnya amat buruklan amalan mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah kerana sesengguhnya mereka telah beriman.kemudian menjadi kafir, lalu hati mereka dikunci mati kerana itu mereka tidak mengerti. Dan apabila kamv. melihat mereka,tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka.Mereka seakan-akan kayu bersandar. Mereka mengira tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka.Mereka itu musuh dan berhati-hatilah terhadap mereka,semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran) ? Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah beriman. agar Rasulullah meminta keampunamu" .Mereka memaling muka dan kamu lihat mereka berpaling sedangkan mereka sombong. Sama saja bagi mereka.kamu mintakan ampun atau tidak bagi mereka. Sesungguhny a Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yangfasik. Mereka yang mengatakan (kepada orang Ansar): "Janganlah kamu memberi belanja kepada orang Muhajirin yang ada di sisi Nabi supaya mereka meninggalkan Rasulullah ".Pada halperbendaharaan Allah adalah langit dan bumi, tetapi mereka tidak memahami. Mereka berkata; "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah,benar-benar orang yang kuat akan mengusirkan orang-orang yang lemah daripadanya ". Padahal bagi Allah jualah kemuliaan dan kekuatan itu dan bagi Rasul-Nya serta bagi orang yang beriman; akan tetapi golongan yang munafik itu tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya). (al-Munafiquun: 1-8) Rasulullah menghantar orang untuk membaca ayat yang baru turun itu kepadaku, dan katanya: "Sesungguhnya Allah telah membenarkan cakap-cakap kau itu" Anak kepada Abdullah Bin Ubai yang juga bernama Abdullah adalah seorang yang salih di kalangan sahabat, beliau telah melepaskan diri dari apa yang dicakapkan oleh bapanya itu, beliau telah menunggu di pintu masuk Madinah dengan pedang yang terhunus, sesampainya Ibnu Ubai di situ,beliau berkata: "Demi Allah kamu tidak boleh melewati sempadan ini kecuali setelah diizinkan Rasulullah, Bagindalah yang termulia dan engkau adalah yang terhina", apabila Rasulullah tiba maka Baginda membenarkan beliau masuk, barulah anaknya tadi membenarkan beliau memberi laluan kepada bapanya, sebelum itu si anak telah pun menegaskan kepada Rasulullah dengan katanya: "Wahai Rasulullah sekiranya tuan hamba merestui pembunuhannya maka perintahlah daku, demi Allah akan ku pancung lehernya dan akan ku bawa ke hadapan tuan hamba". 2. Hadith al-Ifk (Cerita Fitnah) Di dalam peperangan ini berlaku ceriti fitnah (cerita yang direka-rekakan). Ringkasannya di mana Aisyah r.a. telah dibawa bersama Rasulullah ke peperangan Banu al-Mustalaq iaitu setelah dibuat cabutan undi, ini adalah kebiasaan Rasulullah (s.a.w) terhadap isteri-isterinya. Semasa perjalanan pulang, mereka telah singgah di beberapa tempat persinggahan. Dimasa itu Aisyah telah keluar dari kenderaannya untuk membuang hajatnya, tiba-tiba kalung yang dipinjam dari kakaknya telah terjatuh, maka beliau berpatah balik semula ke tempat pembuangan hajatnya untuk mencari kalungan yang terjatuh. Bila tiba masc. keberangkatan maka sahabat yang bertanggungjawab menuntun kenderaannya mengangkat sekedup yang dinaiki Aisyah itu ke atas unta tunggangannya, yang pada sangkaan mereka Aisyah sedang berada di dalam sekedup itu kerana Aisyah bukanlah berat orangnya, di masa itu beliau masih lagi muda belia, lebih-lebih lagi apabila mereka secara beramai-ramai mengangkat sekedup itu tidak terasa berat, lainlah kalau yang mengangkatnya seorang dua, pastilah mereka mengetahui ketiadaan Aisyah di dalamnya. Setelah kesemua orang bertolak dari situ Aisyah pun pulang ke tempatnya dan didapati semua orang sudah tiada di situ lagi dan kalung yang dicarinya pun sudah di temuinya. Justeru itu beliau duduk sahaja di tempat persinggahannya itu, kerana beliau pasti di mana mereka akan mencarinya setelah beliau tiada di dalam sekedup dan mereka akan kembali semula ke tempat beliau diletakkan itu. Allah (s.w.t) jua yang berkuasa mentadbirkan urusanNya di dunia ini, di situ Saidatina Aisyah terlena dek keletihan perjalanan, beliau sedar apabila mendengar laungan dari Safwan bin Ma'tal yang menyebut: "Inna lillahi wainna ilaihi rajiuun, Isteri Rasulullah? " Safwan telah mengekori di penghujung pergerakan tentera kerana beliau banyak tidur, bila melihat Aisyah, beliau mengenalinya kerana beliau pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab, beliau beristirja' (mengucap inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun) dan merendahkan tunggangan, Aisyah pun segera menaiki tunggangan, tidak sepatah pun bertutur selain dari lafaz istirja' tadi. Dengan itu, beliau pun menuntun tunggangan Aisyah, sehingga sampailah bersama-sama dengan tentera yang sedang berhenti di Nahr al-Zahirah, setibanya mereka di situ orang ramai pun bercakap-cakap dengan perbagai pendapat dan andaian yang munasabah. Tetapi seteru Allah mendapati inilah satu peluang yang terbaik untuk mereka melepaskan geram dan marahnya, penuh hasad dengki dan kesumat, mereka mula menyebar cerita yang bukan-bukan dan dusta, menimbul-nimbulkan fitnah, membisik-bisikkan propoganda jahatnya, kuncu-kuncunya pun apa lagi memperolehi barangan yang memang dicari-cari selama ini untuk dijualnya, sesampainya mereka di Madinah maka ahli-ahli dusta tadi pun menabur cerita palsu yang mereka reka-rekakan itu di setiap penjuru Madinah. Rasulullah (s.a.w) berdiam diri tidak berkata apa-apa pun, kerana wahyu tertangguh penurunannya, maka Baginda bermesyuarat dengan para sahabat mengenai penceraiannya, Ali mencadangkan supaya Baginda menceraikannya dan mencari yang lain sebagai ganti, itupun dalam bahasa qias bukan secara terang-terang, tetapi Usamah mencadangkan supaya Baginda meneruskan hidup dengannya, tanpa mempedulikan cakap musuh-musuh Allah. Di suatu hari Rasulullah menaiki mimbar membangkitkan keganjilan yang ditimbulkan oleh Abdullah bin Ubai. Usaiyid bin Hadir ketua al-Aws segera menyatakan kesanggupannya untuk memenggal leher Ibnu Ubai, tetapi ditentang oleh Saad bin Ubbadah ketua al-Khazraj kerana Ibnu Ubai adalah dari kalangan al-Khazraj, perkara ini melarat hingga menjadi isu perkauman, dan Rasulullah cepat-cepat meredakannya sehingga akhirnya mereka pun senyap. Sekembalinya dari perjalanan jauh itu, Aisyah terkena demam selama sebulan, beliau sendiri tidak mengetahui mengenai fitnah yang direkakan ini, apa yang beliau terasa ialah selama ini Rasulullah sentiasa berlembut dengan beliau di ketika beliau mengadu hal sesuatu, tetapi kini sudah tidak dirasai lagi, di suatu ketika semasa beliau pulih dari demamnya itu, beliau keluar dengan Ummu Mistah untuk membuang air besar, tiba-tiba di situ Ummu Mistah tergelincir, lantas beliau melatah, dengan menyumpah anak lelakinya, Aisyah pun memarahi tindakannya itu, di situ Ummu Mistah pun menceritakan fitnah yang diheboh-hebohkan selama ini, bila pulang ke rumah beliau meminta izin dari Rasulullah untuk menemui dua ibu bapanya bagi mendapat kepastian mengenai cerita yang sebenar. Setelah diizinkan oleh Rasulullah (s.a.w) beliau pun kembali ke rumah bapanya, sehingga dengannya dapatlah beliau memperolehi cerita yang lengkap, apa lagi beliau pun terus menangis, dua malam sehari beliau menangis, tanpa henti-henti hingga tidak dapat melelapkan matanya, dirasakan tangisannya itu seolah-olah meretakkan hatinya. Di suatu hari Rasulullah menziarahinya, lepas mengucap al-Syahadah Baginda berkata: "Cukuplah Aisyah, memanglah telah sampai ke pengetahuan ku begini-begini, sekiranya kau suci tidak bersalah, Allah akan menjelaskan kebersihan kau itu, dan sekiranya kau bersalah pohonlah keampunan dariNya serta bertaubatlah kepadaNya, kerana hamba yang mengakui dengan kesalahannya kemudian bertaubat kepada Allah nescaya Allah akan terima taubatnya itu". Aisyah berderaian air mata dan meminta dari dua ibubapanya supaya menjawab bagi pihaknya, namun mereka berdua tidak tahu apa yang hendak dijawabnya, kata Aisyah lagi: "Demi Allah aku mengetahui segala sesuatu yang telah kamu dengar itu sehingga ianya meresap di dalam diri kamu dan kamu mempercayai semuanya, di sini kalau ku kata: Daku ini bersih demi Allah Dia mengetahui yang aku ini tidak bersalah, namun demikian pasti kamu tidak mempercayainya dan kalau aku mengakui sedang Allah mengetahui aku ini tidak bersalah nescaya kamu mempercayai sebagai satu yang benar, apa lagi hendak ku buat selain dari berucap apa yang telah diucap oleh ayah Saidina Yusuf: "Maka sabarlah yang lebih baik dan Allahlah tempat meminta pertolongan di atas segala apa yang kamu sebutkan itu". (Yusuf: 18) Setelah itu beliau beralih ke sebelah dan tidur mengiring, di saat itu wahyu pun turun ke atas Rasulullah menguasai seluruh badan Rasulullah, kemudian kelihatan Baginda tersenyum, lafaz yang pertama-pertama tercetus keluar dibibir Rasulullah dengan sabdanya: "Wahai Aisyah kini Allah telah pun mengisytiharkan kesucianmu dari segala noda". Maka berkata ibunya: "Ayuh bangun kepadanya". Sebagai membukti kesliciannya, di samping kepercayaan beliau dengan kesayangan Rasulullah terhadap dirinya, maka beliau berkata: "Demi Allah aku tak mahu bangun kepadanya dan tiada pujian selain kepada Allah". Firman yang diturunkan mengenai fitnah ialah: Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dikalangan kamujuga. Janganlah kamu kira bahawa berita bohong itu buruk bagi kamu.Tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan. Dan siapa di antara mereka mengambil sebahagian yang terbesar dalam penyiaran berita dusta itu,baginya azabyang besar. Mengapa di masa kamu mendengar berita dusta itu.orang mukminin dan mukminah tidak bersangka baik terhadap din mereka itu dan berkata: "Ini adalah berita dusta yang nyata ". Mengapa mereka tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita dusta itu ? Oleh kerana mereka tidak berbuat demikian.maka di sisi Allah mereka orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurniaan dan rahmat-Nya kepada kamu di dunia dan di akhirat, nescaya kamu ditimpa azab yang besar, kerana berita dusta itu. (Ingatlah)di waktu kamu menerima berita dusta itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dari mulutmu apa yang kamu tidak ketahui sedikit pun dan kamu anggapnya ia adalah ringan pada hal di sisi Allah ia adalah amat berat. Dan mengapa kamu tidak mengatakan di waktu mengengar berita dusta itu: "Sekali-kali tidak pantos bagi kamu memperkatakan itu.Maha suci Allah.ini adalah dusta yang besar. Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali melakukan semula selama-lamanyaJika kamu orang yang beriman. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu.Dan Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang yang ingin berita dusta ini tersebar di kalangan orang beriman,bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat.Dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak. Dan sekiranya tidaklah kumia Allah dan rahmatNya kepada kamu semua, Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang(nescaya kamu ditimpa azab yang besar). (An-Nuur: 11-20) Hukuman sebat dikenakan ke atas orang-orang yang teriibat dengan fitnah, menuduh orang yang tidak berdosa, mereka ialah:Mistah bin Asasah, Hassan bin Thabit, Hamnah binti Jahsy, setiap mereka dirotan sebanyak lapan puluh rotan, namun Abdullah bin Ubai kepala membuat fitnah yang jahat, tidak pula dihukum, kerana boleh jadi hudud atau hukuman dera itu boleh mengurangkan penyiksaan seseorang di akhirat nanti, penyebar fitnah diugut oleh Allah dengan balasan azab yang berat di akhirat atau pun kerana kemaslahatan. Beginilah halnya yang berlaku selepas sebulan dari tarikh kejadian, mendung keraguan dan kekacauan beredar pergi, dari bumi Madinah. Keburukan dan kejahatan kepala munafiqin luas terdedah kepada khalayak ramai, hingga tidak dapat mereka mengangkat kepalanya, kata Ibnu Ishak: Hinggalah kalau terjadi kejadian, kaum sebangsanya pun mengecam dan menuduh Ibnu Ubai. Di hari itu Rasulullah berkata kepada Umar: "Apa pendapat kau sekarang wahai Umar, demi Allah kalaulah kau bunuhnya di hari itu nescaya kau tertekan dan orang bersimpati dengannya, di hari ini kalau aku suruh kau membunuhnya nescaya kau bunuhnya". Jawab Umar: "Demi Allah sesungguhnya ku mengetahui urusan Rasulullah (s.a.w) itu lebih besar barakahnya dari urusan ku". PENGHANTARAN TENTERA DAN PEPERANGAN SELEPAS GHAZWAH AL-MURAISI' 1. Sariyah Abd al-Rahman bin Auf ke daerah banu Kilab di Dawmah al-Jandal di bulan Sya'ban tahun ke enam (6) hijrah. Rasulullah mempersilakan Abd al-Rahman di hadapannya serta mengenakan serban ke kepalanya dan Baginda mewasiatkan beliau dengan sebaik-baik pengurusan di dalam peperangan dengan sabdanya: "Sekiranya mereka itu mentaati kau, maka hendaklah kau berkahwin dengan puteri rajanya. Abd al-Rahman tinggal di sana selama tiga hari menyeru mereka kepada Islam, akhirnya seluruh qabilah memeluk Islam dan Abdul al-Rahman pun berkahwinlah dengan Tamadhur binti al-Asbogh yang dikenali sebagai Ummu Abi Salamah, bapanya adalah pemimpin dan raja qabilahnya. 2. Sariyah Ali bin Abi Talib ke daerah bahu Saad bin Bakar di Fadak pada bulan Sya'ban tahun keenam (6) Hijrah. Mengapa Rasulullah (s.a.w) menghantar tentera ke sana ialah sebagaimana yang dilaporkan oleh risikan Rasulullah bahawa qabilah berkenaan hendak membantu kaum Yahudi untuk memerangi Rasulullah, sebagai tindakan sfc,_ Rasulullah menghantar Ali ke sana dengan kekuatan tenti. dua ratus (200) orang, beliau bergerak di malam hari dan bersembunyi di siang hari, hingga apabila tertangkap seorang pengintipnya maka disoal dan didapati memang benar perkhabaran itu, iaitu Banu Saad telah menghantar beliau untuk menawar bantuan mereka dengan syarat bahawa tamar Khaibar hams diberikan kepada mereka. Pengintip itu juga telah menunjuk tempat perkumpulan Banu Saad, dengan itu mereka menyerang Banu Saad di tempat mereka, dan dapat merampas lima ratus (500) ekor unta dan dua ratus (2,000) biri-biri, Banu Saad telah lari menyelamatkan diri bersama perempuan-perempuan mereka. Ketua mereka ialah Wabar bin Alim. 3. Sariyah Abu Bakr al-Siddiq atau Zaid bin Harithah, ke "Wadi al-Qura' di bulan Ramadhan tahun keenam (6) Hijrah. Qabilah Fazarah telah pun bercadang hendak membunuh Rasulullah, maka Baginda menghantar Abu Bakr al-Siddiq mengepalai tentera ke sana. Kata Salamah bin al-Akwa': "Ku telah keluar bersama-sama beliau apabila kami selesai solat subuh, kami diperintah untuk menyerang dan kami sampai keperairan mereka, Abu Bakr membunuh yang dapat beliau bunuh, ku telah melihat sekumpulan orang-orang Fazarah bersama-sama mereka kaum wanita, aku takut mereka akan mendahului ku ke bukit, ku pun kejar mereka dan memanah supaya ianya tercacak di antara mereka dan bukit, dan setelah mereka melihat anak panah itu mereka pun berhenti, di antara mereka terdapat seorang perempuan, beliau ialah Ummu Qarfah berselimut kulit binatang bersama-samanya anak perempuan yang paling cornel di kalangan bangsa Arab. Kesemua mereka ku tawan dan bawa ke hadapan Abu Bakr, anak perempuan tadi telah dijadikan bahagian sahamku, ku tidak lihat pun tubuhnya. Rasulullah meminta dari Abu Bakr anak perempuan Ummu Qarfah tadi, kemudian dihantar ke Makkah sebagai tebusan kepada tawanan-tawanan Islam di sana. Ummu Qarfah adalah kepala durjana Banu Fazarah, beliau telah merancang untuk membunuh Rasulullah.Dia telah menyediakan sebanyak tiga puluh askar berkuda dari anggota keluarganya untuk tujuan berkenaan. Memnag patutlah dia menerima balasannya bersama-sama dengan tiga puluh orang tenteranya. 4. Sariyah Kurz bin Jabir al-Fihri ke qabilah al-'Arinah di bulan Syawal tahun keenam (6) Hijrah. Cerita bermula di mana sebilangan anggota qabilah, Arinah dan 'Akal menzahirkan kelslaman mereka, dan mereka ini tinggal dipinggiran al-Madinah, jadi Rasulullah (s.a.w) pun menghantar kepada mereka beberapa ekor unta bersama gembalanya untuk menternak di sekitur itu, dan Rasulullah berkata: "Kamu bolehlah meminum dari susunya dan air kecilnya". Di suatu pagi mereka serang dan bunuh pentemaknya dan bawa lari semua unta-unta tadi, ini bererti mereka kufur semula. Oleh itu maka Rasulullah mengutus Kurz al-Fihri bersama dengan dua puluh orang sahabat sambil Baginda berdoa ke atas mereka yang bermaksud: "Ya Allah Ya Tuhanku! butakanlah mata mereka dari jalan, sempitkan laluan mereka " Maka Allah halangkan perjalanan mereka, hingga tentera Islam sempat memberkas mereka, lalu dipotong kaki dan tangan mereka serta dibutakan mata mereka, balasan ke atas jenayah yang mereka lakukan, kemudian ditinggalkan mereka di situ kesudahannya mereka semua mati. Cerita mereka termuat di dalam hadith sahih riwayat Anas. Selain itu ahli sirah menyebut juga sariyah Amru bin Umaiyah al-Dhamari bersama Salamah bin Abi Salamah di bulan Syawal tahun keenam (6) Hijrah. Beliau telah ke sana untuk membunuh Abu Sufian, kerana Abu Sufian telah mengutus dan mengupah seorang Arab Badwi untuk membunuh Rasulullah, namun kedua pihak tidak berjaya samada yang ke Makkah atau yang ke Madinah. Ahli sirah menyebut bahawa Amru dapat membawa pulang badan Khubaib yang mati syahid. Seperti yang diketahui, Khubaib syahid selepas peristiwa al-Raji' beberapa hari atau bulan, al-Raji' berlaku di bulan Safar tahun keempat (4) Hijrah. Saya tidak pasti apakah ahli sirah keliru di antara dua perjalanan? Atau apakah kedua kejadian (kejadian syahid Khubaib dan perjalanan Amru, berlaku dalam satu masa iaitu pada tahun empat (4) Hijrah. Al-Allamah al-Mansurfuri menolak pendapat yang mengatakan perjalanan Amru ini adalah sariyah peperangan atau serangan. Wa Allahu a'lam. Inilah sariyah-sariyah dan ghazwah-ghazwah yang berlaku selepas peperangan al-Ahzab dan Banu Quraizah, namun kesemuanya tidak berlaku satu pertempuran yang sengit, cuma yang berlaku sekadar pertembungan-pertembungan ringan, malah penghantaran ini tidak lebih dari unit-unit pengawalan dan pengajaran buat mengugut Arab-arab Badwi dan seteru-seteru yang lain yang sering membawa kacau bilau. Apa yang dapat diperhatikan di dalam hari-hari yang akhir, keadaan sudah berubah selepas peperangan al-Ahzab, dan dapat dicerap juga semangat juang mereka yang semakin merosot malah mereka tidak berminat lagi untuk menghalang dakwah Islam. Perkembangan ini dapat dilihat dengan ketara sekali selepas perjanjian damai Hudaibiah. Malah perjanjian itu lebih merupakan pengakuan terhadap kekuatan Islam dan pengiktirafan atas penerusannya di seluruh pelusuk Semenanjung Arab. http://www.dakwah.info/index.php/Perang/Perang-Bani-Mustaliq-atau-Al-Muraisi.html |
 | Kenapa bukan perkosaan itu yang dia larang..? malah soal coitus interruptusnya..?
Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 459:
(Juga Hadis Sahih Bukhari Vol. 5-#459)
Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz:
Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (Al-Azl). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus. Maka ketika kami bermaksud melakukan azl/coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’” ------
Muhammad dan tentara Muslimnya merampoki dan membunuhi pria2 Yahudi Banu Mustaliq dan lalu di hari yang sama memperkosa para wanitanya. Tidak ada larangan apapun dari Muhammad akan hal itu, malah meridhoi dan menasehati pemerkosa Muslim untuk tidak perlu cabut penis dari tubuh wanita kafir saat ejakulasi.
Apa anda tahu apa itu coitus interruptus? Pengikutnya nabi suci biasa memperkosa para wanita tawanan dalam perampokan2 mereka dan menarik penis mereka sebelum ejakulasi. Mereka laporkan itu pada sang Nabi dan satu2nya hal yang terpikir oleh orang ini adalah bahwa meski mereka menarik keluar penis mereka dan membuang air mani ke tanah, jika Allah menghendaki para wanita itu tetap saja akan hamil, jadi utk apa ditarik keluar, semprotkan saja di dalam.
Lupakan tentang kebodohan pernyataan ini; tapi pikirkan tentang ketidak manusiawian orang ini.
Kenapa bukan perkosaan itu yang dia larang...? ini malah soal coitus interruptusnya...? Hanya urusan beginiankah yang ada dipikiran “Nabi”...? Inikah tauladan yg diberikan...? amit...amit...
|
 | Menguak SK Pengesahan Ketuhanan Yesus 22 07 2008 Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan? Hal itu diputuskan pada Konsili di Efesius Juni 431 M (400 tahun setelah Yesus wafat) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II. [“We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man” (Oleh karena itu kita mengakui bahwa Tuhan Yesus Kristus, anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%) Keputusan ini kemudian diperkuat lagi oleh SK yang diterbitkan dalam Konsili di Chalcedon, Oktober 451 M yang disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion. ”Following the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Lord Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in mahood, tryly God and tryly man…” (Sesuai dengan ajaran para pemimpin gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya). Prof. John Hick dalam bukunya The Myth of God Incarnate mengatakan : ”What the orthodoxy developed as the two natures of Jesus, divine and human coinhering in one historical Jesus Christ remains a form of words without assignable meaning… for to say without explanation that the historical Jesus of Nazareth was also God is a devoid of meaning..That Jesus was God the Son incarnate is not literally true since it has no literal meaning but it is an application to Jesus of a mythical concept whose function is analogous to that of the nation of divine son ship ascribed in ancient word to a king” (Apa yang diciptakan oleh golongan Kristen Orthodoks tentang ke dwi sifat-an (dua kodrat) Yesus sebagai Khalik dan makhluk dalam diri Yesus hanyalah merupakan kata-kata tanpa arti… karena dengan mengatakan tanpa penjelasan bahwa manusia Yesus adalah juga Tuhan, adalah suatu yang tidak memiliki makna…Bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan secara harfiah tiak benar, karena secara harfiah tidak ada artinya dan hanya dapat diterapkan kepada Yesus dalam mitos yang fungsinya mirip seperti pandangan tentang raja sebagai anak dewa dalam legenda). Huston smith, pakar perbandingan agama dalam bukunya The World’s Religion hal. 340 mengomentari ke-dwisifat-an Yesus : ”to be fully devine mean one has to be free human limitation. If he has only one human limitation then he is not God. But according to the creed, he has every human limitation. How then can he be God?” (Untuk sepenuhnya ilahi, berarti dia harus bebas dari segala keterbatasan manusia. Kalau dia memiliki satu kelemahan manusia, berarti dia bukan Tuhan. Tetapi berdasarkan kredo, dia (yesus) memiliki segala keterbatasan sebagai seorang manusia. Oleh sebab itu mana mungkin dia Tuhan?) Randolph Ross dalam bukunya Common sense Christianity dengan tegas menyatakan: ”Not because it is difficult to understand, but because it can not be meaningfully be said..not only impossible according to our understanding of the laws of nature..but impossible according to the rule of logic upon which all our reasoning is based” (bukan hanya karena sulit dimengerti, tetapi karena tidak ada maknanya..tidak hanya mustahil berdasarkan hukum alam tetapi juga mustahil berdasarkan akal sehat dimana logika berfikir kita didasarkan. Namun walaupun ajaran yang tidak masuk akal ini mendapat tantangan dari ilmuwan dan pakar Alkitab, Gereja tetap mempertahankannya mati-matian karena umat Kristiani sudah terlanjur diajari bahwa dua kodrat Yesus merupakan syarat untuk menjadikannya sebagai Juru Selamat sesuai agama Yunani. Apakah upaya yang dilakukan Gereja untuk menjadikan anak Allah sebagai Tuhan? Dengan mengatakan bahwa Anak Allah (Tuhan) adalah Logosnya filsafat Yunani. Siapa yang mengatakan bahwa Logos (Firman) adalah anak Allah (Tuhan)? Yang mengatakan demikian adalah Philo dari Alexandria. Dia mendifinisikan Logos sebagai ”Protogenes huios theou” Gelar anak Tuhan ini kemudian digunakan oleh Paulus untuk Yesus. Selanjutnya penyalin Injil yang umumnya adalah pengikut Paulus juga ikut-ikutan menyebut Yesus sebagai Anak Allah (Tuhan) dengan menambahkannya ke dalam ayat-ayat Injil. “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, anak Allah“ (Markus 1:1) ”Jawabnya : “Aku percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah” (Kis. 8:37). Kata “Anak Allah” dari kedua ayat tersebut di atas tidak ada dalam teks Injil Markus maupun Kisah Para Rasul yang diperkirakan ditulis pada tahun 325 M. Kata “Anak Allah” dalam kedua kitab diatas, baru diselipkan di akhir abad ke IV atau awal abad ke V. http://aqse.wordpress.com/2008/07/22/menguak-sk-pengesahan-ketuhanan-yesus/ |
 | Sejarah Trinitas 22 07 2008 Oleh : DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph Editor : Agung Primamorista (4 tulisan) Pengalaman batin orang Kristen di zaman awal Paham Trinitas berasal dari pengalaman batin orang Kristen pengikut Yesus di zaman awal akan perjumpaan dengan yang ilahi. Pada saat itu belum ada paham Trinitas sebagaimana dirumuskan belakangan. Pengalaman batin itu mendahului paham teologisnya. Para pengikut Yesus itu mengalami Keilahian dalam tiga bentuk atau modalitas: (1) mengalami Keilahian sebagaimana mereka pahami dari kitab-kitab Yahudi (Perjanjian Lama): sebagai Pencipta, Tuhan dari sejarah penyelamatan, Bapa, dan Hakim; (2) mengalami Keilahian di dalam diri Yesus, yang hidup di tengah manusia, sebagai “Yang Telah Bangkit Kembali”; (3) mengalami Keilahian sebagai Roh Kudus yang memberi kekuatan bagi hidup baru, kuasa bagi Kerajaan Allah, sebagaimana misalnya dialami oleh para murid pada peristiwa Pentakosta. Sepanjang sejarah Kristen, masalah bagaimana mempertemukan pengalaman akan Keilahian dalam tiga bentuk/modalitas ini dengan prinsip keesaan Tuhan (monoteisme) telah menjadi bahan kajian dan perenungan yang sangat mendalam bagi orang Kristen yang saleh. Ini menjadi pendorong pula bagi berkembangnya suatu teologi spekulatif yang mengilhami metafisika Barat selama berabad-abad. Namun, selama dua abad pertama Masehi, terdapat berbagai jawaban terhadap masalah ini yang berdiri berdampingan dan berhadap-hadapan. Pada mulanya para ahli teologi Kristen itu belum mengkajinya secara spekulatif. Perbedaan paham seputar tokoh Yesus Berbagai paham tentang Trinitas itu berpusat pada perbedaan paham tentang tokoh Yesus. Menurut Injil Yohanes, keilahian Yesus adalah titik awal untuk memahami pribadi dan karyanya. Yesus adalah keilahian yang telah ada sebelum ruang dan waktu ini tercipta, dan yang turun ke dunia (berinkarnasi) untuk menebus manusia yang berdosa. Di lain pihak, Injil Markus tidak berangkat dari teologi inkarnasi, melainkan memahami baptisan Yesus di sungai Yordan sebagai pengangkatan manusia Yesus ke dalam kedudukan Putra Allah [Sonship of God], yang terjadidengan turunnya Roh Kudus dalam wujud burung merpati. Jadi sampai di sini sudah ada dua pendekatan yang berbeda. Situasinya menjadi makin rumit ketika muncul konsep tentang pribadi ilahi kedua yang khas sebagaimana terlihat dalam diri Yesus; sedangkan Roh Kudus tidak dilihat sebagai tokoh berpribadi, melainkan sebagai kuasa/kekuatan, dan digambarkan hanya dalam wujud burung merpati atau lidah api. Dengan demikian, Roh Kudus untuk sebagian besar terdorong ke belakang di dalam kesadaran dan liturgi Kristen sehari-hari. Masuknya tema-tema Neoplatonik Di dalam Injil Yohanes terdapat petunjuk-petunjuk awal dari konsep Kristus sebagai Logos, “Sabda”, yang sudah ada pada awal segala zaman. Di bawah pengaruh filsafat Neoplatonisme yang datang belakangan, tradisi ini menjadi sentral di dalam teologi spekulatif. Orang memikirkan bagaimana mempertemukan prinsip “keesaan Allah” dengan “triplisitas” (rangkap tiga) manifestasi keilahian. Masalah ini dijawab dengan menggunakan metafisika keberadaan [being] dari filsafat Neoplatonisme. Menurut filsafat Neoplatonisme, Allah yang transenden, yang berada di atas segala keberadaan, di atas segala rasionalitas, dan di atas segala konseptualitas, berangsur-angsur melepaskan transendensi keilahiannya. Pada tindakan awal dari proses sadar-diri, Logos menyadari dirinya sebagai batin ilahi (Yunani: nous). (Bandingkan ini dengan ta-ayyun awwal dari Ibn Arabi, dan alam wahdatiyah [#2] dari Mas Winarno.) Batin ilahi, yang juga disebut akal budi semesta yang bersifat ilahi, ini oleh filsuf Neoplatonik, Plotinus, dinamakan “Putra” yang muncul (datang) dari Bapa. Langkah berikut dari proses Allah-transenden menjadi sadar-diri adalah munculnya alam ilahi [divine world] di dalam batin ilahi [nous], yakni ide tentang alam semesta dengan wujud-wujud individualnya sebagai isi kesadaran ilahi. (Bandingkan ini dengan ta-ayyun tsani dari Ibn Arabi, dan alam wahidiyah [#3] dari Mas Winarno.) Di dalam filsafat Neoplatonisme, baik nous maupun ide alam semesta disebut hipostasis (emanasi, pembabaran, pengejawantahan ke “bawah”) dari Allah yang transenden. Teologi Kristen belakangan meminjam dari filsafat Neoplatonik ini-metafisika substansi serta doktrin hipostasis-sebagai titik tolak untuk memahami hubungan antara “Allah Bapa” dan “Allah Putra”. Hubungan itu ditafsirkan menurut doktrin hipostasis Neoplatonik. Di sini juga terkandung tafsiran Kristologi spekulatif yang paralel dengan spekulasi Neoplatonik tentang Logos. Kesulitan dengan Neoplatonisme Kesulitan bagi orang Kristen dalam meminjam dari Neoplatonisme ialah karena dalam doktrin hipostatisasi tersirat adanya sesuatu yang “berkurang” dari Allah yang transenden ketika beremanasi menjadi Logos dan seterusnya ke bawah; ada sesuatu yang “melemah”, yang inheren di dalam proses yang berlangsung secara hirarkis itu. Derajat keilahian itu makin lama makin berkurang dengan makin mendekatnya keberadaan ilahi itu kepada materi. (Di dalam filsafat Neoplatonisme, materi di anggap sebagai bukan-keberadaan [nonbeing].) Jadi, dengan mencangkokkan doktrin hipostasis Neoplatonik kepada tafsiran Kristiani tentang Trinitas, terdapat bahaya bahwa berbagai manifestasi Allah itu-sebagaimana dirasakan dalam pengalaman batin Kristen sebagai: Bapa, Putra dan Roh Kudus-berubah menjadi hirarki tuhan-tuhan yang bertingkat-tingkat, menjadi politeisme. Sekalipun bahaya ini dengan sadar dihindari, dan-berangkat dari Kristologi Logos-kesamaan esensi sepenuhnya dari ketiga manifestasi Allah itu ditekankan, ada bahaya lain yakni munculnya kembali triplisitas, yakni tuhan-tuhan yang setara, yang bertentangan dengan prinsip monoteisme murni. Upaya merumuskan Trinitas: “kontroversi Arius” Pada abad ke-3 M orang mulai sadar bahwa upaya memahami misteri Trinitas menurut teori hipostasis Neoplatonik tidak memuaskan dan malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Puncak di mana kesulitan dasar itu mencuat secara teologis dan eklesiastik (kelembagaan gereja) ke permukaan secara mencolok adalah apa yang disebut “kontroversi Arius”. Arius termasuk aliran teologi Antiokhia, yang menekankan historisitas dari manusia Yesus. Dalam teologinya, Arius mempertahankan pemahaman formal tentang keesaan Allah, persis seperti ditekankan oleh doktrin Tauhid dalam Islam, dan deklarasi “Shema” dalam agama Yahudi. Di dalam mempertahankan keesaan Allah itu, Arius terpaksa menyanggah kesamaan antara hakikat Putra dan Roh Kudus di satu pihak dengan hakikat Allah Bapa di lain pihak. Paham ini ditekankan oleh para pemikir dari aliran teologi Aleksandria yang dipengaruhi filsafat Neoplatonisme. Dari sejak awal, kontroversi antara kedua kelompok ini bertumpu pada konsep metafisikal mengenai substansi dari Neoplatonisme-konsep itu sendiri asing bagi Perjanjian Baru-yakni pertanyaan: apakah esensi itu? Tidak heran bahwa kemudian kontroversi ini dirumuskan dalam slogan: “kesamaan esensi [dan oleh karena itu setara]” [homoousion] vs. “kemiripan esensi [dan oleh karena itu, tak sama dan tak setara]” [homoiousion] di antara berbagai pribadi ilahi itu. (Orang-orang yang sinis-macam Gibbon- berkata bahwa orang Kristen menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat tentang sebuah huruf hidup: “i” [iota] dalam “ou” vs. “iou”. Dari sinilah asal ungkapan populer dalam bahasa Inggris: “It makes not one iota of difference.” :-) Tapi bagi penganut kental Kristen perbedaan satu huruf itu berarti sangat penting.) Kristologi-malaikat Bagian kedua dari empat tulisan Ditulis oleh : DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph Posisi dasar dari Arius adalah menyanggah kesamaan esensi dari Putra (dan Roh Kudus) dengan esensi Allah Bapa, untuk mempertahankan keesaan Allah. Dengan demikian menurut Arius, Putra menjadi “Allah kedua, di bawah Allah Bapa [subordinated]“- artinya, ia adalah Allah dalam arti kiasan belaka, oleh karena dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, posisi Putra berada di pihak Ciptaan, sekalipun berada pada puncak Ciptaan (merupakan ciptaan tertinggi). Di sini Arius bergabung dengan suatu tradisi Kristologi yang lebih tua, yang telah menyebar di Roma pada awal abad ke-2 M. Menurut tradisi yang disebut “Kristologi-malaikat” ini, turunnya Putra ke bumi dipahami sebagai turunnya pemimpin malaikat ke bumi, yang menjelma menjadi manusia Yesus; dia pernah pula diidentifikasikan dengan malaikat Mikail. Dalam Kristologi-malaikat kuno ini telah ditampilkan tekad untuk mempertahankan keesaan Allah, yang membedakan iman Yahudi dan Kristiani dari iman-iman pagan di sekitarnya. Putra bukanlah Allah itu sendiri, melainkan sebagai yang tertinggi di antara makhluk-makhluk spiritual yang tercipta; dengan demikian dia ditempatkan sedekat mungkin dengan Allah. Arius bergabung dengan tradisi kuno ini dengan tujuan yang sama: yakni mempertahankan prinsip monoteisme Kristiani terhadap segala tuduhan bahwa agama Kristen menampilkan suatu bentuk politeisme baru yang lebih halus. Kalau Yesus ciptaan juga, bagaimana dia bisa menebus ciptaan? — Athanasius Tidak ayal lagi, upaya yang dipelopori Arius untuk mempertahankan keesaan Allah membawa orang Kristen kepada suatu dilema: kalau di dalam dikotomi Pencipta-Ciptaan, Yesus berada di pihak Ciptaan, padahal Ciptaan itu memerlukan penebusan, bagaimana Yesus bisa menebus dunia? Jadi, secara keseluruhan Gereja Kristen menolak upaya formal untuk mempertahankan keesaan Allah yang dipelopori Arius itu sebagai serangan terhadap realitas penebusan. Juru bicara utama dari pihak ortodoksi gereja adalah Athanasius dari Aleksandria. Bagi dia, titik tolaknya bukanlah suatu prinsip filosofis-spekulatif, melainkan realitas penebusan, kepastian keselamatan. Menurut dia, penebusan umat manusia dari dosa dan maut hanya bisa dijamin jika Yesus adalah Allah sepenuhnya dan sekaligus manusia sepenuhnya, jika esensi Allah meresapi manusia sampai lapisan terdalam dari sumsum tulangnya. Hanya apabila Allah dalam makna esensi ilahi sepenuhnya menjadi manusia di dalam Yesus maka dapat dijamin pengilahian [deification] manusia dalam makna penaklukan dosa dan maut sebagai kebangkitan daging kembali. Konsili Nikea (325 M) Pada konsili Nikea, 20 Mei 35 M, tidak banyak uskup menganut pandangan Athanasius ini. Kebanyakan mengambil sikap di tengah-tengah antara Athanasius dan Arius. Namun dengan dukungan Kaisar Konstantin dan rekayasa Athanasius-mungkin persis sama seperti sidang-sidang umum MPR di zaman Orba-akhirnya Athanasius menang. Hanya Arius bersama dua uskup temannya menolak menandatangani Kredo Nikea. Kredo Nikea ini berbunyi: “Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta segala sesuatu, yang tampak dan tak tampak, dan pada satu Tuhan, Yesus Kristus, Putra Allah, tunggal dilahirkan dari Bapa, yakni, dari zat [ousia] Bapa, Allah dari Allah, cahaya dari cahaya, Allah sejati dari Allah sejati, dilahirkan bukan diciptakan, mempunyai zat sama [homoousion] dengan Bapa, melalui dia segala sesuatu diciptakan, segala sesuatu yang ada di surga dan segala sesuatu yang ada di bumi, yang demi kita manusia dan demi penyelamatan kita, turun [ke dunia] dan menjadi manusia, menderita, bangkit kembali pada hari ketiga, naik ke surga, dan akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati. Dan kami percaya akan Roh Kudus.” Sehabis konsili Nikea, bukan berarti kontroversi itu pun berakhir. Kontroversi Arius ini berlangsung selama 60 tahun lagi. Arius dkk berjuang terus dan berhasil mempengaruhi Kaisar yang memerintah. Akibatnya, Athanasius sempat diasingkan sampai lima kali. Demikianlah, kaisar demi kaisar silih berganti, yang satu mendukung Arianisme, dan yang lain mendukung Kredo Nikea. Persis seperti persaingan antara Buddhisme yang “asing” vs. Konfusianisme yang “asli” di Tiongkok di zaman kuno. Paham Athanasius pada waktu itu sukar diterima. Terutama konsep “homoousion” ["berzat sama"] yang dikenakan terhadap Bapa dan Putra mengandung nuansa materialistik; seperti orang mengatakan bahwa dua mata uang “berzat sama”. (Apakah Allah mempunyai zat seperti mata uang mempunyai zat?) Selain itu istilah itu tidak terdapat dalam Alkitab. Juga tidak dijelaskan bagaimana bisa Allah Putra “berzat sama” dengan Allah Bapa tanpa menjadi “Tuhan kedua”. Kredo Nikea seperti apa adanya dapat dituduh sebagai triteisme (tiga Tuhan). Namun baik kubu Athanasius maupun kubu Arius sependapat akan datangnya sesuatu yang baru yang dibawa oleh Yesus ke dunia. Mereka mencoba menjelaskan pengalaman ini di dalam kerangka simbol-simbol yang mereka pahami. Dan penjelasan itu menjadi kredo (rumusan iman). Pengalamannya sama, tapi kredonya bertentangan, di antara Arius dan Athanasius. Tetapi pengalaman keilahian itu sendiri sebenarnya tak dapat diutarakan dengan kata-kata [ineffable]. Sifat pengalaman transendental itulah yang menyebabkan timbulnya penjelasan iman dari berbagai sudut pandang, yang bisa bertentangan satu sama lain. Sayangnya, di dunia Kristen perlahan-lahan berkembang ketidaktoleranan di bidang dogmatik. Orang harus mengikuti rumusan-rumusan (simbol-simbol) yang dianggap “benar” dan mengikat. Obsesi doktrinal, yang khas dalam agama Kristen ini, dapat dengan mudah mengacaukan simbol-simbol manusiawi dengan realitas ilahi. Inilah yang menyebabkan mudah pecahnya agama Kristen menjadi begitu banyak gereja, yang bersifat eksklusif satu terhadap yang lain. Rumusan Trinitas yang final Bagian ketiga dari empat tulisan Ditulis oleh : DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph Rumusan Trinitas yang final adalah apa yang dikenal sebagai Kredo Athanasius (sekitar th 500 M) –yang sebetulnya bukan ditulis oleh Athanasius, karena dia wafat th. 373 M. Kredo itu pada dasarnya menekankan: “una substantia-tres personae” (”satu zat, tiga pribadi”). Rumusan ini diterima sebagai akidah resmi Gereja Katolik dan beberapa Gereja Protestan. Secara praktis rumusan ini merupakan suatu kompromi, yang di satu pihak berpegang teguh pada kedua landasan iman Kristen (keesaan Allah dan pengungkapan-diri Ilahi di dalam Bapa, Putra dan Roh Kudus), dan di lain pihak tidak merasionalisasikan misteri itu sendiri. Pada akhirnya, sudut pandang yang dianut tetap definitif, dalam arti bahwa realitas penyelamatan dan penebusan tetap dipertahankan dan tidak dikorbankan demi kepentingan monoteisme rasional. Pada awal dan akhir naskah Kredo Athanasius ini terdapat peringatan keras: bahwa barangsiapa menyeleweng dari akidah ini tidak akan terselamatkan. Kerasnya peringatan ini menyebabkan beberapa ahli teologi, terutama dari Gereja Anglikan, menuntut akidah ini dibatasi atau ditinggalkan. Ini adalah contoh ketidaktoleranan Gereja Kristen Barat terhadap sesama Kristen yang menganut rumusan akidah berbeda. Ini disebabkan Gereja Kristen Barat lebih menekankan kerigma (yang filosofis) daripada dogma (yang kontemplatif). (Lihat bawah) Itulah pula sebabnya kelak Inkuisisi serta pengejaran dan penindasan kelompok-kelompok yang berbeda akidah merupakan ciri khas Gereja Barat dan tidak terjadi di Gereja Timur. Para Bapa Kapadosia Secara rasional, orang Kristen dihadapkan kepada pertanyaan abadi: Kalau hanya ada satu Allah, bagaimana Logos bisa ilahi? Terhadap pertanyaan ini, para Bapa Kapadosia (abad ke-4 M) memberikan jawaban, yang akhirnya bisa memuaskan Gereja Ortodoks Timur. Tetapi jawaban itu berasal bukan dari pendekatan filosofis, melainkan dari pendekatan kontemplatif. Yang disebut para Bapa Kapadosia terdiri dari tiga tokoh: (1) Basilius, Uskup Kaesarea; (2) adiknya Gregorius, Uskup Nyssa; (3) sahabatnya, Gregorius dari Nazianzus. Mereka menyenangi filsafat dan spekulasi di satu pihak, namun di lain pihak mereka juga orang-orang yang saleh. Mereka yakin bahwa hanya pengalaman batiniah sajalah yang dapat memberikan kunci untuk memahami Allah. Mereka mengenal Plato, yang membedakan antara filsafat (yang rasional) dan mitologi (yang nonrasional) — kedua-duanya dapat memberikan pengetahuan yang sama pentingnya. Mereka juga mengenal Aristoteles, yang menyatakan bahwa orang memeluk agama-agama misteri bukan untuk belajar [mathein], melainkan untuk mengalami [pathein]. Basilius mengungkapkan sudut pandang yang sama dalam kerangka Kristiani, yakni dengan membedakan antara kerygma dan dogma. Kedua ajaran Kristen itu sama pentingnya. Mnurut Basilius, kerygma adalah ajaran gereja yang terbuka untuk umum, berdasarkan Alkitab. Sedangkan dogma mengandung kebenaran Alkitabiah yang lebih dalam, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman batiniah dan diungkapkan dalam wujud-wujud simbolik. Di samping pesan yang gamblang dari Injil, terdapat suatu tradisi esoterik yang rahasia, yang diwariskan “sebagai misteri” dari para rasul; ini adalah “ajaran privat dan rahasia” … “… yang dipelihara oleh para bapa suci di dalam keheningan yang mencegah kecemasan dan keingintahuan …. untuk dengan keheningan itu menjaga kesucian dari misteri ini. Mereka yang belum diinisiasi tidak diperbolehkan melihat hal-hal ini: maknanya tidak boleh diungkapkan dalam tulisan.” [Basilius, On the Holy Spirit] Perbedaan Kristen Barat dan Kristen TImur dalam melihat Trinitas Gereja Kristen Barat (Latin) kelak akan menjadi agama yang banyak berfilsafat dan berargumentasi; akibatnya, perdebatan mengenai hakikat keilahian akan sering mencuat di Barat. Sebaliknya, di dalam Gereja Kristen Timur (Ortodoks Yunani), teologi yang baik adalah teologi yang bersikap apofatik (berdiam diri dalam kontemplasi). Seperti dikatakan oleh Gregorius dari Nyssa, “setiap konsep tentang Allah hanyalah sekadar gambaran, kemiripan yang tidak tepat, suatu berhala: ia tidak dapat mengungkapkan Allah itu sendiri.” Gregorius menekankan bahwa “… penglihatan dan pengetahuan yang sejati akan apa yang kita cari justru terletak di dalam tidak melihat, di dalam kesadaran bahwa tujuan kita mengatasi segala pengetahuan, yang di semua sisi dibatasi oleh dinding kegelapan dari kemustahilan-pemahaman [incomprehensibility].” Kita tidak dapat “melihat” Allah secara intelektual, tetapi apabila kita membiarkan diri kita diliputi “awan yang turun di gunung Sinai”, kita akan merasakan kehadirannya. Basilius kembali kepada pembedaan yang dibuat oleh Philo antara esensi Allah (ousia) dan kegiatan-Nya (energeiai) di alam semesta: “Kami mengenal Allah kami hanya dari kegiatan-Nya, tetapi kami tidak berupaya mendekati esensinya.” Inilah yang akan menjadi pendekatan kunci di dalam seluruh teologi Gereja Timur di kemudian hari. Para Bapa Kapadosia juga menaruh perhatian terhadap konsep Roh Kudus. Mereka merasa konsep ini hanya disinggung sepintas lalu saja dalam Konsili Nikea: rumusan “Dan kami percaya akan Roh Kudus” dalam Kredo Nikea terasa hanya sebagai embel-embel yang ditambahkan belakangan. Siapakah Roh Kudus itu? Sekadar nama lain dari Allah, atau ada sesuatu yang lain? Gregorius dari Nazianzus mencatat bahwa “Ada orang melihat Roh Kudus sebagai kuasa [kegiatan], ada yang melihatnya sebagai makhluk, ada yang melihatnya sebagai Allah, sedangkan yang lain tidak bisa mengambil keputusan.” Santo Paulus berbicara tentang Roh Kudus yang membaharui, menciptakan dan dan memuaskan; padahal kegiatan ini hanya dapat dilakukan oleh Allah. Oleh karena itu, Roh Kudus yang di dalam diri kita disebut sebagai penyelamat kita, haruslah bersifat ilahi, bukan sekadar makhluk. Para Bapa Kapadosia meminjam ungkapan yang digunakan Athanasius dalam menghadapi Arius: “Allah memiliki satu esensi (ousia) –yang tidak dapat kita kenali-dan tiga pengejawantahan (hypostases) –yang membuatnya dikenal.” Alih-alih berdebat tentang esensi (ousia) Allah (yang tidak mungkin diketahui), para Bapa Kapadosia berangkat dari pengalaman manusia tentang pengejawantahan (hypostases) Allah. Ousia (esensi) adalah hakikat sesuatu di dalam dirinya (bagi Allah, ini tidak mungkin diketahui manusia); sedangkan hypostases (pengejawantahan) adalah gambaran tentang sesuatu dilihat dari luar dirinya (bagi Allah, inilah yang dialami manusia). Gereja Ortodoks Timur: Trinitas bukanlah Allah itu sendiri, melainkan hypostases Allah Yang penting adalah, menurut Gregorius dari Nyssa, bahwa hypostases (pengejawantahan) Bapa, Putra dan Roh Kudus itu tidak boleh dipandang atau diidentifikasikan sebagai Allah itu sendiri, oleh karena “… esensi (ousia) Keilahian tidak terkatakan dan tidak dapat diberi nama.” Maka “Bapa”, “Putra”, dan “Roh Kudus” hanyalah sekadar “istilah-istilah yang kita gunakan” untuk menyebut energeiai (aktivitas) yang dengan itu Allah (yang tersembunyi) memperlihatkan Diri-Nya. Namun, istilah-istilah ini juga mempunyai makna simbolik, karena menerjemahkan realitas yang tidak terbayangkan menjadi gambar-gambar yang dapat kita tangkap. Manusia mengalami Allah sebagai transenden (Bapa, yang tersembunyi di dalam awan yang tak terjangkau), sebagai kreatif (Logos), dan sebagai imanen (Roh Kudus). (bersambung) Menyikapi Trinitas Bagian terakhir dari tulisan Ditulis oleh : DR. Hudoyo Hupudiyo, M.Ph Bagi Gereja Ortodoks Timur, Trinitas hanya dapat dipahami sebagai pengalaman spiritual atau mistikal; Trinitas harus dialami, bukan dipikirkan, karena Allah melampaui segala konsep manusiawi. Trinitas bukanlah rumusan logis atau intelektual, melainkan paradigma imajinatif yang membingungkan akal budi. Bagi orang Kristen di Timur, kontemplasi terhadap Trinitas tetap memberikan pengalaman spiritual yang mengangkat; sedangkan bagi orang Kristen di Barat, Trinitas menimbulkan perdebatan. Perbedaan sikap antara Barat dan Timur ini tampak pula dalam memahami istilah theoria. Bagi orang Kristen Timur, theoria berarti kontemplasi (penghayatan); sedangkan bagi orang Kristen Barat, theoria (teori) berarti hipotesis rasional yang harus dibuktikan secara logikal. Mengembangkan “teori” tentang Allah menyiratkan bahwa Dia dapat ditangkap oleh pemikiran manusia. Orang Kristen Timur menekankan aspek dogmatik dari Trinitas (yang hanya dapat dipahami secara intuitif); sedangkan orang Kristen Barat menekankan aspek kerigmatik dari Trinitas, yang menimbulkan argumentasi, kontroversi dan paradoks-paradoks. Trinitas sebagai paradigma imajinatif sebenarnya dikembangkan untuk mencegah pendekatan yang terlalu rasionalistik terhadap Tuhan sebagaimana ditampilkan oleh Arius. Doktrin Inkarnasi sebagaimana tampil di Nikea, mengandung bahaya idolatri yang simplistik: Tuhan dipahami mempunyai sifat dan kegiatan tidak ubahnya sebagai manusia: berpikir, bertindak, membuat rencana sebagai manusia. Dari situ, manusia akan mengenakan pikiran-pikirannya sendiri (yang eksklusif) pada Tuhan sehingga menjadi absolut. Inilah akar dari sikap-sikap eksklusivistik dalam agama. Ketika pada abad ke-18 M pemikiran rasional mulai membudaya di dunia, orang Kristen Barat mencoba merasionalkan Tuhan pula. Ini yang menyebabkan munculnya pernyataan “Tuhan telah mati” di Barat. Sedangkan orang Kristen Timur tetap melihat Trinitas bukan sebagai pernyataan faktual, melainkan sebagai pernyataan puitik atau sebagai tarian teologis antara apa yang dipercaya manusia dengan kesadaran bahwa kepercayaan kerigmatik seperti itu hanya bersifat sementara [sampai diperoleh pengalaman spiritual yang membenarkannya]. Masa-masa sesudahnya: periode rasionalistik Perkembangan khas pada masa-masa selanjutnya di dunia Kristen, ketika filsafat rasionalistik mulai membudaya, dan aspek penyelamatan dari Trinitas mulai terdesak ke belakang, aliran-aliran anti-Trinitas pun muncul kembali. Banyak yang dengan sadar menganut pandangan Arius yang rasional: misalnya, kaum humanis Pencerahan pada abad ke-16 M, dan kaum anti-Trinitas pada masa Renaisans Italia. Dalam gerakan yang disebut Protestan (Reformasi) radikal, terjadi pergeseran peran Yesus dari Penebus menjadi lebih bersifat profetik dan merupakan pemimpin dan teladan utama bagi orang beriman. Yesus adalah tokoh yang mengutuk kaum agama dan politikus yang mapan, mengecam kaum kaya; begitu pula seharusnya diteladani oleh orang beriman. Munculnya sekte Anabaptis yang dikejar-kejar oleh pimpinan Gereja Katolik dan Gereja Protestan lain; kisah Michael Servetus yang dihukum mati oleh “Inkuisisi” Protestan, merupakan contoh dari paradigma persekusi yang diterima dengan tabah oleh para tokoh gerakan Reformasi radikal ini. Mereka meneladani Yesus yang juga dikejar-kejar dan mati di kayu salib. Gerakan radikal pada abad ke-16 M ini kelak mengambil bentuk sebagai aliran Unitarianisme. Aliran ini berpendapat bahwa doktrin Trinitas adalah penyimpangan dari Alkitab, dan bahwa monoteisme sederhana dapat dipertahankan apabila Kristus tidak dilihat sebagi pengejawantahan penuh dari Allah. Ada suatu hubungan langsung antara paham anti-Trinitas dengan penelitian kehidupan Yesus pada abad ke-18 M. Pelopor penelitian ini ialah Hermann Reimarus dan Karl Bahrdt, yang menggambarkan Yesus sebagai agen suatu tarekat pencerahan yang tertutup (kaum Essene), yang bertujuan untuk menyebarluaskan agama akal budi di dunia. Kedua peneliti itu juga bersikap anti-Trinitas dan memelopori gerakan kritik rasionalistik yang radikal terhadap dogma-dogma gereja. Ilmuwan terkemuka, Sir Isaac Newton (abad ke-17 M), mempunyai minat pada agama dan teologi. Pada awal th 1690-an, ia mengirimkan kepada sahabatnya, John Locke, satu kopi tulisannya yang mencoba membuktikan bahwa ayat-ayat yang menyiratkan Trinitas di dalam Perjanjian Baru adalah tambahan belakangan yang disisipkan oleh kubu Athanasius. Ketika John Locke berniat menerbitkan karya itu, Newton segera menariknya kembali, karena takut pandangannya yang anti-Trinitas diketahui umum. Kritik Immanuel Kant (abad ke-18 M) terhadap “bukti-bukti” adanya Tuhan menyebabkan merosotnya doktrin Trinitas lebih jauh. Di dalam filsafat Idealisme Jerman, Hegel, dalam upaya mengangkat dogma Kristen ke dalam lingkup konseptual, mengambil doktrin Trinitas sebagai landasan bagi sistem filsafatnya serta tafsirannya terhadap sejarah sebagai proses pengejawantahan roh mutlak menjadi sadar-diri. Pada masa yang lebih mutakhir, aliran teologi dialektis di Eropa dan Amerika Serikat cenderung mereduksikan doktrin Trinitas dan menggantikannya dengan monokristisme. Monokristisme adalah kecenderungan dalam praktek iman Kristen sehari-hari, ketika tokoh Putra mendesak tokoh Bapa ke belakang, ketika tokoh Pencipta dan Pemelihara alam semesta dikesampingkan oleh tokoh Penebus. Gejala ini terlihat pada kehidupan liturgis sehari-hari. Terdapat tarik-menarik antara teologi Kristen (Trinitas) dan kesalehan Kristen (dengan titik berat pada Yesus Kristus). Suatu bentuk monokristisme yang radikal adalah Gerakan “Jesus Only”, yang muncul di dalam Gereja Pentakosta. Gerakan ini menyatakan bahwa baptisan yang benar adalah “Atas nama Yesus” semata, bukan atas nama Trinitas. Gerakan yang mulai pada th 1913 di Kalifornia ini menolak doktrin Trinitas tradisional, dan hanya mengakui pribadi Yesus satu-satunya sebagai Allah. Gerakan ini menyebabkan pecahnya aliran Pentakosta menjadi beberapa gereja. Pada suatu peristiwa yang singkat tapi dipublikasikan secara luas pada pertengahan tahun 1960-an, sejumlah ahli teologi Protestan terkemuka yang terlibat dalam kritik budaya mengamati dan menyatakan bahwa “Tuhan telah mati”. Teologi “matinya Tuhan” mengesampingkan segala paham tentang transendensi ilahi, dan meletakkan seluruh sifat Kekristenan pada manusia Yesus dari Nazareth. Dogma Kristen ditafsirkan ulang, dan direduksikan menjadi sekadar sosialitas dan kemerdekaan manusiawi. Tak lama kemudian, mayoritas ahli teologi menanggapi aliran kecil ini dengan menampilkan kembali dogma Kristen klasik, yang menekankan perjumpaan dengan transendensi ilahi dalam setiap wacana tentang Yesus Kristus. Penemuan kembali transendensi ilahi Pada zaman pasca-modernisme sekarang ini, transendensi ilahi telah ditemukan kembali”setidak-tidaknya diindikasikan”oleh sains dan sosiologi. Teologi pada dasawarsa penutup abad ke-20 M ini berupaya mengatasi tafsiran yang bersifat antropologis semata tentang agama, dan sekali lagi menemukan secara baru landasan transendensinya. Konsekuensinya, teologi dihadapkan pada masalah Trinitas dalam bentuk baru, yang menurut pengalaman Kristiani akan Allah sebagai kehadiran Bapa, Putra dan Roh Kudus tidak dapat dihilangkan. Pemahaman baru akan Trinitas ini ditandai dengan pergeseran dari pendekatan filosofis-metafisikal kepada pendekatan kontemplatif. Juga dipengaruhi oleh perjumpaan dengan paham-paham lain yang non-Kristiani tentang inkarnasi dan emanasi transenden, dalam rangka dialog antariman. [Disarikan dan dirangkum dari Encyclopaedia Britannica dan "A History of God" (Karen Armstrong).] Uraian tentang sejarah pemahaman dan penyikapan terhadap konsep Trinitas di atas menggarisbawahi bahwa semua sudut pandang tersebut -baik yang pro maupun yang kontra, baik yang “resmi” maupun yang tidak- adalah upaya manusia untuk menyelami hal-ihwal keilahian. Upaya ini pada garis besarnya menggunakan dua pendekatan: di satu pihak, pendekatan filosofis-intelektual, dan di lain pihak, pendekatan kontemplatif-meditatif. Rekan-rekan yang menganut salah satu paham Trinitas tertentu sebagai rumusan imannya, mungkin ada yang memahami rumusannya sebagai “terilhami oleh Roh Kudus”. Hal ini dapat dipahami sepenuhnya. Namun, karena saya pribadi berangkat dari sikap sekuler yang netral terhadap berbagai akidah yang ada, maka saya melihat berbagai paham Trinitas itu tidak ada yang lebih “benar” atau lebih “salah” yang satu terhadap yang lain. Bersimpati dengan pendekatan Gereja Ortodoks Timur, saya berpendapat bahwa paham Trinitas adalah simbol-simbol yang mengacu kepada suatu realitas transenden yang berada di baliknya, yang pada dasarnya tidak terbayangkan dan tidak terkatakan oleh otak manusia. Realitas itu hanya dapat didekati dan dialami di dalam kontemplasi-meditatif, bukan dengan pemikiran diskursif-filosofis. Realitas itu tercermin pula di dalam banyak simbol-simbol lain yang non-Kristiani. Salam, Hudoyo http://aqse.wordpress.com/2008/07/22/sejarah-trinitas/ |
 | KEBOHONGAN PAULUS TARSUS !!! Nov 29, '08 9:41 PM for everyone "Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang (Yahudi & Kristen) yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: 'Ini dari Allah', untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan." (QS. 2:79) Paulus, seorang dari Tarsus (di Turki), kaki tangan penjajah Romawi dan Yunani atas bangsa Palestina, adalah PEMBOHONG nomor wahid dalam ajaran Yesus, yang telah menyesatkan sebagian umat manusia. Ajarannya, kemudian dikenal dengan sebutan "Kristen". Ajaran Kristen dan Gereja, sama sekali bukan dan tidak pernah diajarkan oleh Yesus! Seluruh surat2 Paulus yang berjumlah 14 kitab, yang tergabung dalam Perjanjian Baru, adalah BOHONG BESAR! Agama Kristen, kelahirannya dibidani oleh Paulus dalam GALATIA: 2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, [b]supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. Paulus, sama sekali bukan dan tidak pernah menjadi murid Yesus! Bahkan, Paulus pun tidak pernah bertemu dengan Yesus! Paulus adalah seorang penyesat ajaran Yesus demi kepentingan penjajah Romawi dan Yunani yang menguasai Palestina. Ia bukanlah orang dimana Yesus mengemban misinya. Namun demikian, setelah terangkatnya Yesus ke langit, ia mengaku2 sudah bertobat dan mengaku2 sebagai rasul. Padahal, Yesus tidak pernah menyebut, menunjuk, mengenal, mengangkat, dan melihat manusia yang bernama Paulus dari Tarsus! Bahkan, ciri2nya pun Yesus tidak pernah menyebutkannya! Kecuali namanya dipromosikan melalui kitab propaganda karangan pengarang "Lukas" yang diberi nama "Kisah Para Rasul" (nama versi Alkitab Indonesia). Seluruh ajaran Paulus bertentangan dengan misi dan tugas kerasulan Yesus yang terbatas hanya untuk umat Israel. Jika kita bahas seluruh ajaran Paulus ini, rasanya terlalu membuang2 waktu, karena akan memakan tulisan yang sangat melelahkan untuk dibaca. Di sini, kami hanya menyuguhkan beberapa ajaran Paulus saja yang kami rasa cukup mewakili atas semua kebohongan ajaran Paulus Tarsus. Berikut ini kami suguhkan kebohongan fundamental ajaran Paulus terhadap ajaran Yesus dalam GALATIA: 1:10. Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. 1:11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. 1:12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. 1:13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 1:14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 1:15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 1:16 berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 1:17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. 1:18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 1:19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 1:20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. 1:21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 1:22 Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 1:23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 1:24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku. Dari tulisan tangan Paulus di atas, terdapat tiga fakta fundamental kebohongan Paulus: 1. Paulus mengaku menerima Injil bukan dari manusia, tetapi dari Yesus (ayat 12). Injil yang bagaimanakah yang diterima Paulus dari Yesus ini? Mengapakah Paulus tidak menunjukkannya kepada umat manusia? Jika injil yang dimaksud adalah keempat injil kanonik, bukankah keempat injil kanonik ini ditulis oleh masing2 pengarangnya jauh setelah terangkatnya Yesus ke langit? Pernyataan Paulus ini tidak lain hanyalah isapan jempol semata, tanpa bukti, dan mengada2! 2. Paulus mengaku2 menerima wahyu dari Yesus untuk memberitakan ajarannya kepada bangsa2 non Yahudi (ayat 16). Sebagaimana tersurat dalam injil2 kanonik, Yesus diutus Allah hanya untuk umat sesat Israel. Jadi, bagaimana mungkin Paulus menerima wahyu dari Yesus, sementara Yesus sendiri hanya seorang rasul utusan Allah? Pernyataan ini juga tidak lain hanyalah isapan jempol, tanpa bukti, dan mengada2! 3. Lebih jelas, Paulus sendiri mengakui kalau rupanya tidak dikenal oleh orang2 Kristen Yudea (ayat 22), yaitu sebuah wilayah di Palestina selatan yang dihuni oleh orang2 Israel keturunan Yehuda, tempat dimana Yesus mengemban misinya. Bagaimana mungkin seorang rasul utusan Yesus tidak dikenal oleh umat Israel dimana Yesus dibesarkan dan mengajarkan ajarannya? Lebih jauh, kecuali hanya sedikit, umat Israel tidak pernah mengakui Yesus sebagai nabi atau pun Tuhan! Bahkan, saking jengkelnya mereka, Yesus pun diburunya dan "dibantai" di tiang salib! Dari sini, kita bisa melihat bahwa umat Israel tidak mungkin menerima Paulus, oleh karena ia bukan dari golongan umat Israel, melainkan seseorang dari bangsa lain. Pernyataan Paulus ini membuktikan bahwa ia sama sekali bukan dan tidak pernah bahkan tidak mungkin menjadi murid Yesus! Lebih jauh lagi, sebenarnya Paulus telah mengada2kan sendiri kesaksiannya yang seolah2 orang2 Yudea tersebut beragama Kristen, padahal orang2 Yudea adalah orang2 Israel yang beragama Yahudi yang lantang menolak Yesus! Kalau begitu, siapakah yang mengajarkan Kristen kepada orang2 Yudea? Bukankah Paulus sendiri ditolak? Benar2 isapan jempol! Terlalu jelas, bagaimana Paulus mengada2kan sendiri ajarannya dengan mengaku2 menjadi rasul yang diutus oleh Yesus. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa seluruh ajaran Paulus ini bertentangan dengan tugas kerasulan Yesus, yakni menegakkan hukum Taurat dengan menggenapinya dengan Kitab Suci Injil. Berikut pernyataan Yesus menurut MATIUS: 5:17. "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Menurut ayat2 di atas, Yesus datang bukan untuk menghilangkan hukum Taurat dan kitab para nabi, tetapi hanya untuk menggenapinya (melengkapinya). Bahkan, Yesus mengancam kepada umat Israel, jika kehidupan agama mereka tidak lebih baik dari ahli2 Taurat dan orang2 Farisi, mereka tidak akan masuk kerajaan surga. Perlu dijelaskan, bahwa ahli2 Taurat dan orang2 Farisi adalah kelompok masyarakat Israel yang selalu menentang dan mencari2 kesalahan Yesus, karena mereka menolak kerasulan Yesus. Untuk mempersingkat, berikut ini kami suguhkan beberapa kebohongan ajaran Paulus yang nyata2 bertentangan dengan tugas kerasulan Yesus: 1. KEBOHONGAN PAULUS 1: Yesus adalah Tuhan. 1 KORINTUS 8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. Menurut ayat karangan Paulus di atas, Yesus adalah Tuhan. Padahal, Yesus sama sekali bukan dan tidak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan! Kata2 Yesus dalam injil2 kanonik justru menunjukkan bahwa ia hanyalah seorang utusan Allah kepada umat Israel. ULANGAN 4:35 Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. MATIUS 15:24 Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." MARKUS 12:29 Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. YOHANES 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. 2. KEBOHONGAN PAULUS 2: Sunat tidak penting. GALATIA 5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. 1 KORINTUS 7:19 Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. Menurut ajaran Paulus di atas, sunat itu tidak penting dan tidak punya arti, yang penting adalah iman dan mentaati hukum2 Allah. Hukum2 Allah yang bagaimanakah yang dimaksud Paulus ini? Menurut Kitab Kejadian berikut ini, sunat adalah salah satu hukum Allah yang paling penting bagi umat Israel, dan WAJIB dilaksanakan oleh umat Israel terhadap seluruh orang laki2. Jika menolak, maka orang itu harus dibunuh! Bahkan, Yesus pun disunat (LUKAS 2:21). KEJADIAN 17:14 Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." 3. KEBOHONGAN PAULUS 3: Salib menebus dosa. GALATIA 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Menurut ajaran Paulus di atas, bahwa Yesus disalib adalah untuk menebus dosa2 manusia. Ajaran yang sangat sesat dan tak berdasar! Ajaran Paulus ini bertentangan dengan ajaran Taurat dan Yesus berikut ini: YEHEZKIEL 18:20 Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. MARKUS 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (lihat juga MATIUS 19:14). Menurut Yehezkiel, setiap orang akan menanggung akibat perbuatannya masing2. Bahkan menurut Yesus sendiri, anak2 adalah pemilik kerajaan surga, yang berarti keadaan mereka adalah suci tanpa dosa. Bagaimana mungkin anak2 yang suci tanpa dosa harus ditebus dosanya? Ini adalah ajaran Paulus yang paling ngawur! 4. KEBOHONGAN PAULUS 4: Segala sesuatu halal. 1 KORINTUS 6:12 Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun. Pernyataan Paulus di ataslah yang menjadi dasar pola hidup freesex dan mabuk2an di negara2 Barat. Padahal, Tuhan mengharamkan zinah dan memerintahkan agar para pelakunya dilempari batu sampai mati (IMAMAT 20:1-27 dan ULANGAN 22:13-30); Tuhan mengharamkan anggur dan minuman keras (IMAMAT 10:9); Tuhan mengharamkan beberapa binatang termasuk babi (IMAMAT 11:1-47 dan ULANGAN 14:3-21); Tuhan mengharamkan darah (IMAMAT 17:12); Beberapa hal termasuk sperma adalah najis (IMAMAT 15:1-34); Laki2 yang keluar sperma atau campur dengan istri, keduanya harus mandi wajib (IMAMAT 15:16-18); Tuhan mengharamkan riba (ULANGAN 23:19-20); Yesus memerintahkan potong tangan/kaki bagi pencuri (MATIUS 5:30; 18:8 dan MARKUS 9:43,45); Yesus memerintahkan cungkil mata bagi laki2 yang yang mengingini perempuan bukan istrinya (MATIUS 5:29; 18:9 dan MARKUS 9:47); Yesus memerintahkan rajam bagi pelaku zinah (YOHANES 8:7); dan lain-lain. DAN LAIN SEBAGAINYA.. Cicak Medan http://forum.swaramuslim.net/more.php?id=3866_0_21_0_M |
 | HI,HI,HI, .....PENGECUT LU ... ....LU MAH KRISTEN NGAKU AJA.!!! ...LAGU LAMA KRISTEN NGAKU ATHEIS LAH ,KAGA ADA AGAMALAH, AGNOSTICLAH,MURTADINLAH.....PANTESS ADA MAHAGURUNYA SI PENDUSTA YAITU SI PAULUS........ |
 |
| |